Selasa, 23 April 2013

Rational Emotive Behavior Therapy


Rational Emotive Behavior Therapy




Terapi Rasional Emotif diperkenalkan pertama kalinya oleh seorang klinisi yang bernama Albert Ellis pada tahun 1955. Pada Awalnya Ellis merupakan seorang psikoanalisis, tetapi kemudian ia merasakan bahwa psikoanalisis tidak efesien. Ia juga seorang ahli terapi yang sangat bersebrangan dengan penganut humanistis. Rasional Emotif menolak keras pandangan psikoanalisis yang mengatakan bahwa pengalaman masa lalu adalah penyebab gangguan emosional individu. Menurut Ellis (dalam Lubis, 2011) penyebab gangguan emosional adalah karena pikiran irasional individu dalam menyikapi pristiwa atau pengalaman yang dilaluinya. Terapi Rasional Emotif dalam perkembangannya memiliki banyak nama, antara lain: Rational Therapy, Semantic Therapy, Cognitive Behavior Therapy, dan Rational Behavior Trainning. Dalam teori konseling, Terapi Rasional Emotif termasuk dalam kategori terapi cognitive behavior (Latipun dalam Lubis, 2011). Selanjutnya, Corey (2009) mengatakan Terapi Rasional Emotif termasuk dalam kategori terapi cognitive behavior karena Rasional Emotif lebih menitikberatkan pada proses berpikir, menilai, memutuskan, menganalisis, dan bertindak. Rasional Emotif didaktif dan direktif serta lebih banyak berhubungan dengan dimensi pikiran daripada perasaan.


Menurut pandangan Ellis (dalam Lubis, 2011) Rasional Emotif merupakan teori komprehensif karena menangani masalah- masalah yang berhubungan dengan individu secara keseluruhan yang mencangkup aspek emosi, kognisi, dan perilaku. Dalam Rasional Emotif masalah yang dimiliki klien antara lain: kecemasan pada tingkat moderat, gangguan neurosis, gangguan karakter, masalah psikosomatik, gangguan makan, ketidakmampuan menjalin hubungan interpersonal, masalah perkawinan, adiksi, dan disfungsi seksual. Individu yang tidak dapat ditangani Rasional Emotif adalah anak-anak (khususnya autisme), gangguan mental tingkat bawah, schizhophrenia jenis katatonik (gangguan penarikan diri berat), dan maniak atau mania-depresif (Lubis, 2011).

1.  Dinamika Kepribadian Manusia


Rasional Emotif pada hakikatnya memandang manusia dilahirkan dengan potensi baik dan buruk. Manusia memiliki kemampuan berfikir rasional dan irasional. Selain itu manusia juga dapat memiliki kecenderungan mempertahankan perilaku yang destruktif dan melakukan berbagai cara agar tidak terlibat dengan orang lain. Corey (2009) menegaskan bahwa manusia memiliki potensi yang luar biasa untuk mengaktualisasikan potensi yang dimilikinya serta dapat mengubah diri dan lingkungannya. Perilaku manusia di dorong oleh kebutuhan, hasrat, tuntutan, keinginan yang ada di dalam dirinya. Bila hal tersebut tidak tercapai manusia cenderung akan mempersalahkan dirinya dan orang lain. Pandangan Ellis (dalam Lubis, 2011) terhadap konsep manusia adalah sebagai berikut:
  1. Manusia mengadaptasikan dirinya terhadap perasaan yang menggangu pribadinya.
  2. Kecenderungan biologisnya sama dengan kecenderungan kultural yang berpikir salah dan tidak ada gunanya, hanya akan mengecewakan diri sendiri.
  3. Memiliki kemampuan untuk memilih reaksi yang berbeda dengan yang biasanya ia lakukan.
  4. Menolak mengecewakan diri sendiri terhadap hal-hal yang akan terjadi.
  5. Melatih diri sendiri agar mempertahankan diri dari gangguan.
Selanjutnya Ellis (dalam Lubis, 2011) juga mengatakan bahwa peristiwa yang terjadi pada individu akan direaksi sesuai dengan cara berpikir atau sistem kepercayaannya. Jadi konsekuensi reaksi yang dimunculkan seperti senang, sedih, frustasi dan sebagainya bukanlah akibat peristiwa yang dialami individu melainkan disebabkan karena cara berpikirnya.
Menurut Latipun (dalam Lubis, 2011) ada tiga istilah yang terkait dengan tingkah laku manusia berdasarkan pandangan Rasional Emotif, yaitu: Antecedent Event (A), Belief (B), dan emotional consequence (C). Istilah ini lebih dikenal dengan konsep A-B-C. Berikut adalah penjelasannya.
a.    Antecedent Event (A)
     Adalah peristiwa, fakta, perilaku, atau sikap orang lain yang terjadi di dalam maupun luar diri individu. Misalnya, perceraian orang tua dan kelulusan ujian bagi siswa.
b.    Belief  (B)
     Adalah keyakinan dan nilai individu terhadap suatu peristiwa. Keyakinan atas dua bagian yaitu: pertama, keyakinan rasional (rB) yang merupakan keyakinan yang tepat, masuk akal, dan produktif. Kedua, keyakinan irasional (iB) yang merupakan keyakinan yang salah, tidak masuk akal, emosional, dan tidak produktif. Keyakinan dapat berasal dari nilai agama, norma masyarakat, dan aturan orang tua. 
c.    Emotional Consequence (C)
     Adalah konsekuensi emosional baik berupa senang ataupun hambatan emosi yang diterima individu sebagai akibat reaksi dalam hubungannya dengan (A). Konsekuensi emotional ini bukanlah akibat langsung dari A, tetapi juga B baik dipengaruhi oleh iB maupuan rB individu. Misalnya, sedih, marah, bahagia, dan bangga.


Setiap individu akan memiliki reaksi yang berbeda walau menghadapi keadaan atau situasi yang sama. Hal ini sangat dipengaruhi oleh keyakinan (B) yang dimilikinya, baik keyakinan rasional (rB) maupun keyakinan irasional (iB). Reaksi yang berbeda tentu saja akan melahirkan konsekuensi emosional yang berbeda pula. Dua orang individu yang memiliki keyakinan yang berbeda akan menyikapi peristiwa tertentu secara berbeda pula. Individu yang memiliki keyakinan rasional cenderung bereaksi secara normal dan wajar, sementara individu yang memiliki keyakinan irasional akan cenderung bereaksi secara spontan dan tidak wajar (Lubis, 2011). 

Ellis (dalam Corey, 2009) juga menambahkan bahwa setelah konsep A-B-C, maka menyusul desputing (D) yang merupakan penerapan metode ilmiah untuk membantu klien menantang keyakinan irasionalnya. Desputing(D) merupakan implementasi dari proses terapi yang dijalankan oleh terapis dan klien melalui proses belajar mengajar (edukatif), dimana terapis menunjukkan berbagai prinsip logika dan dapat diuji kebenarannya untuk menyanggah keyakinan irasional klien. Ia menyatakan bahwa manusia yang memiliki kemapuan untuk berpikir seyogianya mampu melatih dirinya untuk mengubah atau menghapus pola keyakinan yang irasional dalam dirinya.

2.  Peran dan Fungsi Terapis


Menurut Lubis (2011) terapis dalam terapi Rasional Emotif harus meminimalkan hubungan yang intens tetapi tetap menunjukkan penerimaan diri yang positif terhadap klien. Terapis harus mendengarkan pernyataan klien dengan sungguh-sungguh dan menunjukkan empatinya. Mereka perlu memahami keadaan klien sehingga memungkinkan untuk mengubah cara berpikir klien yang tidak rasional. Mengubah keyakinan yang telah mengakar dalam diri klien bukanlah sesuatu yang mudah. Tugas utama seorang terapis adalah mengajari klien cara memahami dan mengubah diri sehingga terapis disini harus bertindak aktif dan direktif.
Lesmana (dalam Lubis, 2011) menyebutkan ciri-ciri khusus yang seharusnya menjadi syarat seorang terapis Rasional Emotif, yaitu: pintar, berwawasan luas, empati, peduli, konkret, gigih, ilmiah, berminat membantu orang lain dan menggunakan teori Rasional Emotif dalam kehidupannya. Terapi Rasional Emotif adalah sebuah proses edukatif karena salah satu tugas terapis adalah mengajarkan dan membenarkan perilaku klien melalui pengubahan cara berpikir (kognisi) nya. Konselor bertindak sebagai pendidik yang antara lain memberi tugas pada klien serta mengajarkan strategi untuk memperkuat proses berpikirnya. Dalam menjalankan fungsinya tersebut, Ellis (dalam Corey, 2009) memberikan gambaran tentang tugas terapis, yaitu:
  1. Mengajak klien untuk berpikir tentang bentuk-bentuk keyakinan irasional yang memengaruhi tingkah laku.
  2. Menantang klien untuk menguji gagasan-gagasan irasionalnya.
  3. Menunjuk ketidaklogisan cara berpikir klien.
  4. Menggunakan analisis logika untuk meminimalkan keyakinan irasional klien.
  5. Menunjukkan pada klien bahwa keyakinan irasionalnya adalah penyebab gangguan emosional dan tingkah laku.
  6. Menggunakan absurditas dan humor untuk menghadapi keyakinan irasional klien.
  7. Menerangkan pada klien bahwa keyakinannya dapat diubah menjadi rasional dan memiliki landasan empiris.
  8. Mengajarkan pada klien bagaimana menerapkan pendekatan ilmiah yang membantunya agar dapat berpikir secara rasional dan meminimalkan keyakinan yang irasional.

3.  Tujuan Terapi Rasional Emotif

Secara umum, pandangan Rasional Emotif memfokuskan diri pada cara berpikir manusia. Hal inilah yang dijadikan acuan bagi terapis untuk mengubah tingkah lakunya. Tujuan utama yang dicapai dalam Rasional Emotif adalah memperbaiki dan mengubah sikap individu dengan cara mengubah cara berpikir dan keyakinan klien yang irasional menuju cara berpikir yang rasional, sehingga klien dapat meningkatkan kualitas diri dan kebahagian hidupnya (Lubis, 2011).
Ellis (dalam Lubis, 2011) menambhakan kembali formula A-B-C menjadi A-B-C-D-E yaitu antecedent, belief, emotional consequence, desputing, dan effect. Efek adalah keadaan psikologis yang diharapkan terjadi pada klien setelah menjalani terapi Rasional Emotif. Melalui terapi, klien diarahkan dapat memiliki dimensi psikologis yang utuh dan sehat, dapat mengarahkan dirinya ke arah yang positif, berpikir fleksibel, dan ilmiah serta dapat menerima keadaan dirinya secara keseluruhan.Willis (dalam Lubis, 2011) mengatakan bahwa tujuan dari terapi Rasional Emotif adalah untuk menghilangkan gangguan emosional yang dapat merusak diri (seperti benci, rasa bersalah, cemas, dan marah) serta melatih dan mendidik klien agar dapat menghadapi kenyataan hidup secara rasional.
Ellis (dalam Lubis, 2011) mengatakan bahwa Rasional Emotif tidak hanya diarahkan untuk menghilangkan gejala (simtom), akan tetapi juga membantu klien untuk mengetahui dan merubah beberapa nilai dasar keyakinan klien terutama yang menimbulkan gangguan. Sebagai contoh, klien menghadapi masalah takut melakukan hubungan seksual dengan lawan jenis. Dalam hal ini peran terapis bukan hanya melakukan pengurangan rasa takut klien melainkan melakukan penanganan atas rasa takut menjalin hubungan secara umum. Jadi, peran fungsi terapis dalam Rasional Emotif adalah membebaskan klien dari gejala yang disampaikan atau tidak disampaikan secara jelas kepada terapis.          

4.  Teknik Terapi Rasional Emotif


Menurut Corey (2009) pada dasarnya, terapi Rasional Emotif tidak membatasi diri pada satu jenis teori tunggal. Terapis dibebaskan untuk menggunakan lebih dari satu teori (pendekatan eklektik). Hal ini berdasarkan anggapan bahwa klien dapat mengalami perubahan melalui berbagai macam cara seperti belajar dari pengalaman sendiri, orang lain, menonton film, berpikir dan meditasi.
Teknik Rasional Emotif yang paling utama adalah mengajar secara aktif-direktif. Lebih dari itu, Rasional Emotif juga menekankan proses deduktif yang mengacu pada aspek kognitif. Dalam keadaan ini, terapis lebih terlihat bertindak sebagai guru dibandingkan fasilitator bagi klien (Lubis, 2011).
          Menurut Ellis (dalam Corey, 2009) terapis dapat menerapkan metode terapi tingkah laku seperti:
  1. Pelaksanaan pekerjaan rumah.
  2. Desentisasi Sistematis.
  3. Pengkondisian Operan.
  4. Hipnoterapi.
  5. Latihan Asertif.
Selain itu, Willis (dalam Lubis, 2011) menyebutkan beberapa teknik Rasional Emotif lainnya antara lain:
  1. Sosiodarma, yaitu sandiwara singkat yang menjelaskan masalah-masalah di kehidupan sosial.
  2. Pencontohan (modelling).
  3. Teknik reinforcement.
  4. Relaxation.
  5. Self-control, yaitu klien diajarkan cara-cara mengendalikan diri dan menahan emosi.
  6. Diskusi.
  7. Simulasi, yaitu melalui berperan antara konselor dan klien.
  8. Bibliografi, yaitu dengan memberikan bahan bacaan tentang orang-orang yang mengalami masalah yang hampir sama dengan klien dan akhirnya dapat mengatasi masalahnya. Atau bahan bacaan yang dapat meningkatkan cara berpikirnya klien agar lebih rasional.
Dalam terapi, terapis Rasional Emotif menggunakan teknik-teknik yang lebih direktif dalam menghadapi klien seperti konfrontasi, pembantahan, deindoktrinasi, dan reedukasi. Ellis (dalam Lubis, 2011) menjelaskan bahwa teknik-teknik yang bervariasi tersebut dimanfaatkan untuk membantu klien mencapai suatu perubahan kognitif yang mendasar.

5.  Kelemahan dan Kelebihan Terapi Rasional Emotif


Kelebihan
  1. Pendekatan ini jelas, mudah dipelajari dan efektif. Kebanyakan klien hanya mengalami sedikit kesulitan dalam mengalami prinsip ataupun terminologi REBT.
  2. Pendekatan ini dapat dengan mudahnya dikombinasikan dengan teknik tingkah laku lainnya untuk membantu klien mengalami apa yang mereka pelajari lebih jauh lagi.
  3. Pendekatan ini relatif singkat dan klien dapat melanjutkan penggunaan pendekatan ini secara swa-bantu.
  4. Pendekatan ini telah menghasilkan banyak literatur dan penelitian untuk klien dan terapis. Hanya sedikit teori lain yang dapat mengembangkan materi biblioterapi seperti ini.
  5. Pendekatan ini terus-menerus berevolusi selama bertahun-tahun dan teknik-tekniknya telah diperbaiki.
  6. Pendekatan ini telah dibuktikan efektif dalam merawat gangguan kesehatan mental parah seperti depresi dan kecemasan.

Kelemahan
  1.  Pendekatan ini tidak dapat digunakan secara efektif pada individu yang mempunyai gangguan atau keterbatasan mental, seperti schizophrenia, dan mereka yang mempunyai kelainan pemikiran yang berat.
  2.  Pendekatan ini terlalu diasosiasikan dengan penemunya, Albert Ellis. Banyak individu yang mengalami kesulitan dalam memisahkan teori dari keeksentrikan Ellis.
  3.  Pendekatan ini langsung dan berpotensi membuat terapis terlalu fanatik dan ada kemungkinan tidak merawat klien se-ideal yang semestinya.
  4. Pendekatan yang menekankan pada perubahan pikiran bukanlah cara yang paling sederhana dalam membantu klien mengubah emosinya.




DAFTAR PUSTAKA


Corey, Gerald. 2009. Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: Refika Aditama

 Lubis, Lumongga Namora. (2011). Memahami Dasar-Dasar Konseling dalam Teori dan Praktik. Jakarta: Kencana Prenada Media Group





Tidak ada komentar:

Posting Komentar