Sabtu, 22 Desember 2012

Akulturasi Psikologi



Psychology Acculturation


  
Definisi
Psychology Acculturation atau yang dalam bahasa indonesia disebut sebagai Akulturasi Psikologi adalah istilah yang pertama kali dikemukakan oleh Graves. Graves melakukan banyak studi dan penelitian tentang Psychology Acculturation. Beliau yang petama kali mendefinisikannya. Menurut Graves (dalam Flannery, 2001) Akulturasi Psikologis didefinisikan sebagai proses adaptasi individu terhadap suatu budaya baru. Lebih lanjut Graves (dalam berry dan Safdar, 2007) mengatakan bahwa akulturasi psikologis merupakan perubahan pada individu yang berpartisipasi dalam situasi kontak budaya yang dipengaruhi oleh budaya dominan dan budaya non-dominan dimana individu menjadi anggotanya. Sedangkan Berry (dalam Dees, 2006) mengartikannya sebagai proses dimana individu mengalami perubahan, baik karena dipengaruhi oleh adanya kontak dengan budaya lain, serta karena berpartisipasi dalam perubahan akulturatif umum yang berlangsung dalam budaya mereka sendiri. Ia juga mengatakan bahwa untuk menyadari akulturasi psikologi pada individu, kita perlu mempertimbangkan perubahan psikologis yang dilalui oleh individu dan peristiwa-peristiwa adaptasi mereka pada situasi baru. Sedangkan pandangan Dees (2006) yang berlawanan dengan pendapat Berry, mengasumsikan bahwa Akulturasi Psikologi lebih meneliti dampak dari hubungan antar budaya pada tingkat individu bukan terfokus pada tingkat perubahan yang terjadi pada individu dari kelompok budaya yang berbeda. Dari berbagai pendapat tokoh diatas dapat disimpulkan bahwa Akulturasi psikologi (Psychology Acculturation) adalah perubahan perilaku serta identitas yang terjadi pada individu sebagai dampak dari adanya hubungan (kontak) antar budaya.

Teori
Terdapat dua alasan untuk membedakan tingkat budaya dan psikologis. Pertama, dalam psikologi lintas budaya kita memandang perilaku individu sebagai interaksi dengan konteks budaya yang terjadi (Berry, Poortinga, Segall dan Dasen dalam Berry dan Safdar, 2007). Kedua, tidak setiap individu masuk, berpartisipasi atau berubah dengan cara akulturasi yang sama. Terdapat perbedaan individu yang besar dalam  akulturasi psikologis, walaupun diantara individu yang  memiliki budaya yang sama dan tinggal dalam wilayah akulturatif yang sama (Sam dan Berry dalam Berry dan Safdar, 2007). Mengacu dengan pernyataan Berry dan Safdar tersebut maka dapat dikatakan bahwa dalam akulturasi psikologis, dampak yang ditimbulkan dari adanya kontak antar budaya (budaya asli dengan budaya luar) tidak hanya berupa perubahan tetapi juga dapat berupa perilaku mempertahankan budaya asli. Ketika individu dihadapkan pada fenomena perubahan budaya dalam kelompoknya sebagai akibat masuknya budaya luar, maka pada individu tersebut akan terjadi akulturasi psikologis. Mengacu pada teori yang dikemukakan oleh Berry (dalam Matsumoto dan Juang, 2008) serta pada Berry (2005), Individu akan melakukan salah satu strategi akulturasi yang terdiri dari empat macam yaitu:
1.    Intergrasi (integration)
Yaitu individu tetap mempertahankan budaya asli mereka tetapi individu juga ingin berpartisipasi terhadap budaya luar yang masuk ke dalam budaya mereka. Baik budaya asli dan budaya luar diterima oleh individu. Nilai-nilai budaya asli tetap dipertahankan dan nilai-nilai budaya luar juga ikut diadopsi yang pada akhirnya akan mempengaruhi perilaku individu tersebut. Salah satu perubahan yang terjadi, misalnya mereka dapat berbicara dua bahasa atau lebih.
2.    Asimilasi (assimiliation)
Yaitu individu hilang kontak (tidak memiliki kontak) dengan budaya asli mereka tetapi individu lebih memilih mengadakan kontak dengan budaya luar. Jadi, individu menolak budaya asli mereka dan secara menyeluruh mengasimilasi budaya luar. Terjadi perubahan dalam perilaku mereka, yaitu mengikuti nila-nilai budaya luar. Mereka mengurangi interaksi dengan orang-orang dari budaya asli mereka, mereka berbicara menggunakan bahasa dari budaya luar ketika mereka berinteraksi dengan orang-orang dari budaya asli mereka sendiri.
3.    Separasi (separation)
Yaitu individu mempertahankan nilai-nilai budaya asli mereka dan menolak nilai-nilai budaya luar yang masuk. Individu hanya mengadakan interaksi dengan budaya asli mereka tetapi tidak mengadakan interaksi dengan budaya luar. Jenis ini merupakan kebalikan dari asimilasi. Individu tersebut menggunakan bahasa asli mereka dalam berinteraksi dengan orang-orang dari budaya luar serta dari budaya mereka sendiri.
4.    Marginalisasi (marginalization)
Yaitu individu memutuskan untuk menolak budaya asli dan budaya luar. Individu tidak mempertahankan budaya asli mereka tetapi juga tidak menerima budaya luar. Maka dari itu, tidak terjadi perubahan dalam diri individu yang disebabkan oleh budaya luar, tetapi individu juga tidak berusaha mempertahankan budaya asli mereka.
Keempat macam strategi akulturasi tersebut dapat diperjelas dengan gambar di bawah ini, dimana tiap strategi bergantung kepada kelompok mana yang dipertimbangkan. 





Dampak Akulturasi Psikologi di Indonesia


Berdasarkan penjabaran diatas, dapat terlihat bahwa strategi akulturasi yang terjadi di Indonesia adalah asimilasi, yaitu kebanyakan individu menolak budaya asli mereka dan secara menyeluruh mengasimilasi budaya luar. Pengaruh budaya barat yang masuk ke Indonesia telah membuat perubahan yang besar terhadap perilaku, gaya hidup, bahasa, makanan, pakaian, dan lain-lain. Orang-orang indonesia cenderung mengagung-agungkan budaya barat dan melupakan budaya aslinya sendiri. Hanya sedikit masyarakat yang mempertahankan, menjaga dan melestarikan budaya asli indonesia, yang kebanyakan berasal dari golongan tua. Kebanyakan masyarakat indonesia dari remaja sampai dewasa mengalami perubahan karena masuknya budaya asing tersebut. Dimulai dari pakaian sampai pada gaya hidup. Tidak sedikit masyarakat indonesia yang menggunakan pakaian-pakaian terbuka, minim bahan, dan tidak senonoh yang merupakan fashion di negara barat. Selain itu, sekarang hampir tiap restoran dipenuhi dengan menu steak api, jarang sekali restoran yang menjual gado-gado, karedok, dan sebagainya. Kemudian banyak pula warga indonesia yang berbicara menggunakan bahasa inggris dengan sesama orang indonesia, baik itu para selebritis maupun para karyawan di kantor. Lalu gaya hidup, masyarakat indonesia terutama para golongan elit memiliki selera dan gaya hidup layaknya orang barat. Mulai dari desain rumah, perabotan rumah, sampai hampir pada tiap barang yang di beli dipengaruhi oleh nilai-nilai budaya barat. Singkatnya, budaya luar (budaya barat) yang masuk ke indonesia membuat banyak perubahan dalam perilaku individu.    
 


Pengaruh Akulturasi Psikologi terhadap Kesehatan Mental

Pada tingkat individu kita perlu menyadari perubahan psikologis individu dalam semua kelompok, dan adaptasi mereka terhadap situasi baru. Beberapa penelitian menemukan bahwa strategi akulturasi berkaitan dengan kesehatan mental individu. Kesehatan mental bukan hanya satu dimensi saja dari kesehatan manusia secara keseluruhan. Ia juga merupakan dimensi yang berkaitan dengan kapasitas keberadaan manusia yang meliputi kapasitas dalam berpikir, dalam menetapkan hubungan interdependensi dengan individu lain, dalam berkarya, dalam menciptakan budaya dan menemukan makna dalam hidup. Dalam hal ini kesehatan mental merupakan hal yang penting dalam perkembangan dan kehidupan manusia secara sosial. Mengacu pada teori Berry mengenai strategi akulturasi, integration berkaitan dengan rendahnya tingkat stres, separation berperan pada stres psikosomatik (psychosomatic stress), assimilation memberikan peran pada munculnya stres psikologis (psychological stress) dan Marginalization meningkatkan prasangka (stereotipe).
Berry (dalam Pink, 2001), memperkenalkan model stres akulturatif (model of acculturative stress), yang menggambarkan pengaruh stresor yang kuat pada proses akulturasi. Model ini didasarkan pada model stres psikologis (model of psychological stress) dari Lazarus (1984) yang menjelaskan hubungan non-linier antara stresor dengan kesehatan. Proses akulturasi dimulai dari pengalaman dalam menangani (to cope) dua nilai budaya yang berbeda. Individu menilai nilai pada budaya yang baru sebagai hambatan atau tantangan. Proses akulturasi ini menyebabkan ketidakseimbangan pada individu sehingga memunculkan stres. Kesehatan mental bukan sekedar terbebasnya individu dari berbagai macam gangguan psikologis, tetapi lebih dari itu, kesehatan mental berkaitan dengan kapasitas dan kualitas dimana individu mampu beradaptasi dengan perubahan, manajemen situasi yang krisis, mendemonstrasikan hubungan yang bermakna dengan individu lain dan menikmati kehidupan (Almeida, 2001).
Dari penjelasan ini dapat diketahui bahwa kesehatan mental merupakan status keseimbangan dan harmoni pada internal psikis. Order maupun disorder adalah satu sistem yang terbuka sehingga menyebabkan keduanya bukan merupakan kutub yang berlawanan dalam satu kontinum, dimana yang satu merupakan kebalikan dari yang lain. Order dan disorder adalah dimensi dalam satu proses yang sama dengan hubungan yang sangat kompleks. Akhirnya kita melihat bahwa sehat dan sakit bukan merupakan hal dikotomi. Oleh karena itu Kesehatan mental diartikan dalam kerangka ‘keberfungsian dan kualitas hidup’ (Functioning and Quality of Life) sebagai salah satu area dimana indikasi kesehatan diterapkan pada masa depan kesehatan komunitas (Kovess, 1999).
Jahoda (dalam Andersson, 1999) membuat kriteria mengenai kesehatan mental secara positif. Kriteria tersebut antara lain: 1) Sense of identity, yang memuat self acceptance dan self-esteem. 2) Realizing One’s Potential, yang menjelaskan kemampuan individu merealisasikan potensi yang dimiliki. 3) Unifying Outlook and Sense of Meaning and Purpose To Life, yang menjelaskan cara individu dalam mencapai tujuan hidupnya. 4) Autonomy, yang memuat penentuan diri (self determination) yang disesuaikan dengan harapan masyarakat. 5) Accurate Perception, dalam hal persepsi terhadap realitas tanpa mengindahkan situasi objektif. 6) Mastery Of The Environment, yang termanifestasikan dalam hubungan interpersonal.

Kesimpulan

Dari penjabaran diatas, kita dapat mengetahui bahwa akulturasi psikologis adalah perubahan perilaku serta identitas yang terjadi pada individu sebagai dampak dari adanya hubungan (kontak) antar budaya. Jadi singkatnya, akulturasi psikologis terjadi karena adanya interkultural. Seperti yang telah dijelaskan pada pembahasan sebelumnya bahwa interkultural yaitu adanya hubungan antara budaya yang satu dengan budaya yang lain, antara budaya asli (lokal) dengan budaya lain (luar).  Tanpa adanya hubungan antar budaya, perilaku dan identitas individu tidak akan berubah. Adanya hubungan antar budaya menyebabkan individu yang menjadi anggota suatu budaya asli mengalami pergeseran nilai-nilai yang dianut, perubahan perilaku serta identitas.   



Daftar Pustaka

Flannery, Peter, dkk. 2001. An Empirical Comparison of Acculturation Models. http://www.uk.sagepub.com/thomas2e/study/articles/section3/Article65.pdf. Jurnal Society of Personality and Social Psychology. Vol.27, Hal.1035-1045. Diakses tanggal 2 Desember 2012

Dees, M David. 2006. How Do I Deal With These New Ideas?: The Psychological Acculturation of Rural Students. http://www.jrre.psu.edu/articles/21-6.pdf. Journal of Research in Rural Education. Diakses tanggal 2 November 2012

Berry, W John dan Saba Safdar. 2007. Psychology of  Diversity: Managing Acculturation and Multiculturalism in Plural Societies. http://atrium.lib.uoguelph.ca:8080/xmlui/bitstream/handle/10214/4064/Berry_Safdar_2007rev.pdf?sequence=3. Diakses tanggal 22 Desember 2012

Berry, W John. 2005. Acculturation: Living Successfully in Two Cultures.  International Journal of Intercultural Relations. Vol 29. Hal 697-712

Matsumoto, David dan Linda Juang. 2008. Culture and Psychology. USA: Wadsworth

Hadjam, Rochman Noor. Perubahan Nilai dan Kesehatan Mental. http://plopsikologi.ugm.ac.id/images/foto/CF73325448518165-15246.pdf. Diakses tanggal 22 Desember 2012













Sabtu, 03 November 2012

Akulturasi dan Interkultural


What is Acculturation?
Istilah Akulturasi sudah tidak asing lagi di telinga kita. Menurut Matsumoto dan Juang (2008), Akulturasi adalah proses dimana orang-orang mengadopsi sistem budaya yang berbeda. Memahami proses akulturasi sangatlah penting bagi beberapa individu, bukan hanya bagi pendatang saja tetapi juga bagi pengungsi. Akulturasi mengacu pada proses dimana kultur seseorang dimodifikasi melalui kontak atau pemaparan langsung dengan kultur lain (Wikipedia). Misalnya, bila sekelompok imigran kemudian berdiam di Amerika Serikat (kultur tuan rumah), kultur imigran akan dipengaruhi oleh kultur tuan rumah ini. Berangsur-angsur, nilai-nilai, cara berperilaku, serta kepercayaan dari kultur tuan rumah akan menjadi bagian dari kultur kelompok imigran itu. Pada waktu yang sama, kultur tuan rumah pun ikut berubah. Sedangkan pengertian akulturasi menurut Berry (2005) adalah proses dualisme dari budaya dan perubahan psikologis sebagai hasil dari kontak (hubungan) antara dua atau lebih kelompok budaya dan individunya.
Dari penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa akulturasi adalah proses dimana suatu budaya asli mengadopsi nilai, keyakinan dan sikap dari budaya lain tanpa mengubah atau mengikis nilai-nilai budaya asli tersebut. Proses pengadopsian nilai-nilai ini tidak hanya satu arah (sepihak) melainkan dua arah (saling timbal balik), dimana nilai-nilai budaya asli terpengaruh oleh nilai budaya lain, sedangkan budaya lain juga terpengaruh oleh nilai-nilai budaya asli. Pengadopsian nilai-nilai antar budaya dapat menghasilkan asimilasi, yaitu dimana nilai-nilai budaya asli dan budaya lain saling menyatu membentuk suatu budaya baru. 

What is Intercultural?
Interkultural adalah orang-orang yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda. Interkultural biasanya dijelaskan dalam komunikasi antarbudaya (intercultural communication) yang menurut Matsumoto dan Juang, (2008) merupakan komunikasi antar orang-orang yang memiliki latar belakang budaya yang berbeda. Orang-orang yang berasal dari budaya lain biasanya membawa bahasa verbal mereka sendiri. Sebagai contoh, orang Israel akan memiliki kemampuan untuk berbicara Hebrew. Orang India akan memiliki kemampuan untuk berbicara Hindi, Orang dari suku Jawa akan memiliki kemampuan untuk berbicara bahasa Jawa, dan sebagainya. Akan tetapi selain itu, mereka juga akan membawa budaya spesifik non-verbal mereka. Hal yang serupa juga dikemukakan oleh Stewart L. Tubbs, yang mengatakan bahwa komunikasi antarbudaya adalah komunikasi antara orang-orang yang berbeda budaya (baik dalam arti ras, etnik, atau perbedaan-perbedaan sosio-ekonomi). Hamid Mowlana menyebutkan komunikasi antarbudaya sebagai human flow across national boundaries, yaitu keterlibatan suatu konfrensi internasional dimana bangsa-bangsa dari berbagai negara berkumpul dan berkomunikasi satu sama lain. Sedangkan Fred E. Jandt mengartikan komunikasi antarbudaya sebagai Intercultural communication generally refers to face-to-face interaction among people of diverse culture, yaitu interaksi tatap muka di antara orang-orang yang berbeda budayanya (Wikipedia).
Berdasarkan pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa Intercultural Communication (Komunikasi antar budaya) adalah suatu interaksi (baik tatap muka maupun menggunakan media) antara orang-orang yang berbeda budaya (baik dalam ras, etnik, atau perbedaan sosio-ekonomi). Hal ini sangatlah jelas berbeda dengan Intracultural Communication, dimana komunikasi yang terjadi adalah dengan orang dari latar belakang budaya yang sama sehingga memiliki norma dan nilai-nilai yang sama. Untuk itu menurut Matsumoto dan Juang (2008), Intercultural Communication akan menyebabkan banyak konflik serta ketidakpastian dan ambiguitas karena saling menganut nilai, norma dan keyakinan yang berbeda.  

Acculturation and Intercultural Relation
Dari penjelasan diatas, maka kita mendapatkan gambaran bahwa ternyata akulturasi dapat terjadi karena adanya hubungan interkultural. Tanpa adanya komunikasi dari orang-orang dengan latar belakang budaya yang berbeda, maka tidak akan dapat terbentuk akulturasi. Akulturasi yang merupakan pengadopsian nilai-nilai dari budaya yang satu kepada budaya yang lain, atau sebaliknya tidak akan pernah terjadi jika dua budaya tidak saling berinteraksi satu sama lain. Menurut Matsumoto dan Juang (2008), akulturasi terbagi menjadi dua proses yang saling berhubungan tetapi memiliki komponen yang berbeda, yaitu:
1.    Intercultural Adaptation
Adalah bagaimana orang-orang mengubah perilaku mereka atau pola pikir mereka dalam lingkungan budaya yang baru. 
2.    Intercultural Adjustment
Adalah pengalaman subjektif yang orang-orang miliki mengenai perilaku dan pola pikiran yang mereka sesuaikan.
Berry (dalam Matsumoto dan Juang, 2008) mengemukakan sebuah model mengenai strategi akulturasi. Dalam model Berry, pendatang diberikan dua pertanyaan dasar, yaitu:
1.    Apakah saya ingin memelihara identitas dan karakteristik budaya asli saya?
2.    Apakah saya ingin memelihara hubungan yang baik dengan orang-orang dari budaya tuan rumah?   
Berry menyebut orang-orang yang menjawab ‘Ya’ pada pertanyaan pertama dan ‘Tidak’ pada jawaban kedua adalah Separators (orang-orang yang memisahkan diri). Mereka tinggal dalam lingkungan komunitas pendatang, berbicara bahasa asli mereka, dan berinteraksi dengan teman-teman dari budaya asli mereka serta memiliki sedikit hubungan (interaksi) dengan individu yang berasal dari budaya tuan rumah.

Individu yang menjawab ‘Tidak’ pada pertanyaan pertama dan menjawab ‘Ya’ pada pertanyaan kedua, disebut Assimilators. Jenis individu ini menolak budaya asli mereka dan secara menyeluruh mengasimilasi budaya tuan rumah. Mereka mengurangi interaksi dengan orang-orang dari budaya asli mereka, dan mereka berbicara menggunakan bahasa sesuai dengan budaya tuan rumah sampai ketika mereka berinteraksi dengan orang-orang dari budaya asli mereka.

Orang-orang yang menjawab ‘Tidak’ kepada dua pertanyaan diatas, disebut Marginalizers. Mereka menolak budaya asli maupun budaya tuan rumah dan tidak berlaku baik dalam masing-masing budaya. Mereka tinggal di pinggiran dari kedua budaya tersebut, dan tidak benar-benar mampu membenamkan diri (mendalami) salah satu budayanya.

Terkhir, orang-orang yang menjawab ‘Ya’ pada kedua peetanyaan tersebut, disebut Integrators. Individu ini mampu pindah dari budaya yang satu ke buaday lainnya, mengganti gaya budaya mereka sesuai dengan tempat dimana mereka berada. Mereka dapat berbicara dua bahsa atau lebih (bilingual atau multilingual), sama baiknya dengan orang yang memiliki dua budaya tau lebih (bicultural atau multicultural). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat dari gambar di bawah ini.






Strategi yang paling baik menurut Berry adalah integration. Integrasi adalah pola adaptasi terbaik, yang dapat menghasilkan hasil terbaik dalam penyesuaian (adjustment). Namun hal ini mendapat kritik dari Rudmin. Rudmin (dalam Matsumoto dan Juang, 2008) mengatakan bahwa integrasi tidak benar-benar dapat diasosiasikan dengan hasil penyesuaian yang terbaik. Kenyataannya, banyak kelompok pendatang di Amerika yang hidup bahagia, produktif, tidak begitu baik dalam berbicara inggris, dan tidak banyak berinteraksi dengan tuan rumah orang Amerika.

Faktor-Faktor Psikologis yang memprediksi Intercultural Adaptation dan Adjustment
Pengetahuan mengenai norma-norma, keyakinan-keyakinan, sikap-sikap, dan nilai-nilai dalam budaya target menjadi prasayarat untuk adaptasi (Matsumoto dan Juang, 2008). Penelitian lainnya ditemukan bahwa pengetahuan mengenai gesture dalam budaya tuan rumah berkolerasi positif dengan lamanya tinggal di negara asing dan berkorelasi negatif dengan masalah komunikasi (Molinsky, Krabbenhoft, Ambady, dan Choi dalam Matsumoto dan Juang, 2008).
Dalam intercultural adjustment, terdapat beberapa faktor yang penting. Faktor yang pertama adalah cultural fit atau tingkatan dimana karakteristik seseorang cocok dengan lingkungan budaya baru yang mana dia akan terakulturasi (Ward dan Chang dalam Matsumoto dan Juang, 2008). Ia juga mengatakan bahwa individu yang cocok akan memiliki penyesuaian yang baik, sebaliknya individu yang tidak cocok karakteristiknya akan memiliki penyesuaian diri yang buruk, dimana mereka kemudian stres, depresi, atau cemas.
Faktor lainnya yang penting untuk intercultural adjusment adalah regulasi emosi yang diartikan sebagai kemampuan untuk mengatur reaksi emosi agar mendapatkan hasil yang berguna. Dalam studi yang berkelanjutan ditunjukan bahwa pengaturan emosi adalah salah satu kunci suksesnya intercultural adjustment (Matsumoto, LeRoux, Bernhard, Gray, Iwamoto, Choi, Rogers, Ratzlaff, Tatani, Uchida et al, dalam Matsumoto dan Juang, 2008). Dalam Intercultural Adaptation, kemungkinan penuh konflik yang tidak dapat dielakkan yang banyak membawa tekanan (stres). Kemampuan untuk dapat menyesuaikan diri dengan sukses menjadi cara untuk dapat menghadapi terjadinya stres ketika tinggal dalam budaya baru. Kemampuan ini menuntut kita untuk tidak mengatasi masalah dengan emosi. Kita harus mampu menjaga emosi kita, itulah yang dinamakan proses regulasi emosi. Jadi dapat dikatakan, regulasi emosi adalah kemampuan dalam mengatur dan mengendalikan emosi ketika menghadapi situasi yang membuat stres. Sebuah variabel yang berkaitan dengan regulasi emosi adalah Need for Cognitive Closure (kebutuhan untuk menggunakan kognitif). Need for Cognitive Closure berhubungan negatif dengan regulasi emosi. Orang-orang yang regulasi emosinya rendah kemungkinan memiliki Need for Cognitive Closure yang tinggi, karena mereka tidak bisa mengatasi rasa cemas mereka yang tidak diketahui penyebabnya (Matsumoto dan Juang, 2008).

Rintangan dalam mencapai Intercultural Communication yang Efektif
Barna (dalam Matsumoto dan Juang, 2008) menggaris bawahi 6 rintangan utama pada komunikasi antarbudaya secara efektif, yaitu:
1.    Adanya Asumsi Kesamaan (similiarities)
    Orang-orang biasanya dengan naif berpendapat bahwa orang lain sama dengan dirinya, atau kurang lebih cukup sama untuk membuat komunikasi menjadi lebih mudah.
2.    Perbedaan Bahasa
   Ketika orang-orang mencoba untuk berkomunikasi dalam bahasa dimana ia tidak lancar, orang-orang tersebut seringkali berfikir bahwa kata, frase atau kalimat hanya memiliki satu makna (satu arti). 
3.    Kesalahpahaman dalam Menginterpretasikan Non-verbal
  Adanya kesalahpahaman dalam menginterpretasikan perilaku non-verbal dapat dengan mudah menimbulkan konflik sehingga dapat merusak komunikasi.
4.    Prasangka dan Stereotip
     Ketergantungan terhadap stereotip dapat mecegah timbulnya komunikasi yang objektif.
5.    Kecenderungan untuk Menilai
     Nila-nilai budaya yang saling berbeda akan menimbulkan penilaian negatif bagi orang lainnya.
6.    Kecemasan yang Tinggi atau Tegang
    Komunikasi antarbudaya (Intercultural Communication) sering diasosiasikan dengan kecemasan yang hebat dan stres daripada komunikasi dengan budayanya sendiri. Terlalu banyak cemas dan stres dapat menyebabkan disfungsional dalam proses berfikir dan perilaku. Sters dan cemas dapat menyebabkan hubungan menjadi terhambat.  

Hasil Akulturasi yang Disebabkan oleh Interkultural 
A.  Hasil Akulturasi Indonesia dengan Hindu-Budha
   Masuknya budaya Hindu-Budha di Indonesia menyebabkan munculnya Akulturasi. Hal ini terlihat jelas bahwa adanya komunikasi yang terjadi antara orang-orang indonesia dengan orang-orang yang menganut ajaran Hindu-Budha, melahirkan suatu perpaduan unik, yaitu akulturasi antara indonesia dan Hindu-Budha. Kebudayaan Hindu-Budha yang masuk ke Indonesia tidak diterima begitu saja melainkan melalui proses pengolahan dan penyesuaian dengan kondisi kehidupan masyarakat Indonesia tanpa menghilangkan unsur-unsur asli. Hal ini disebabkan karena:
1.    Masyarakat Indonesia telah memiliki dasar-dasar kebudayaan yang cukup tinggi sehingga masuknya kebudayaan asing ke Indonesia menambah perbendaharaan kebudayaan Indonesia.
2.    Kecakapan istimewa yang dimiliki bangsa Indonesia atau local genius merupakan kecakapan suatu bangsa untuk menerima unsur-unsur kebudayaan asing dan mengolah unsur-unsur tersebut sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia.
   Pengaruh kebudayaan Hindu hanya bersifat melengkapi kebudayaan yang telah ada di Indonesia. Akulturasi hanya merupakan hasil dari proses pengolahan kebudayaan asing sesuai dengan kebudayaan Indonesia:
1.    Bidang Sosial
 Setelah masuknya agama Hindu terjadi perubahan dalam tatanan sosial masyarakat Indonesia. Hal ini tampak dengan dikenalnya pembagian masyarakat atas kasta.
2.    Ekonomi
Dalam ekonomi tidak begitu besar pengaruhnya pada masyarakat Indonesia. Hal ini disebabkan karena masyarakat telah mengenal pelayaran dan perdagangan jauh sebelum masuknya pengaruh Hindu-Budha di Indonesia.
3.    Sistem Pemerintahan
Sebelum masuknya Hindu-Budha di Indonesia dikenal sistem pemerintahan oleh kepala suku yang dipilih karena memiliki kelebihan tertentu jika dibandingkan anggota kelompok lainnya. Ketika pengaruh Hindu-Budha masuk maka berdiri Kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja yang berkuasa secara turun-temurun. Raja dianggap sebagai keturuanan dari dewa yang memiliki kekuatan, dihormati, dan dipuja. Sehingga memperkuat kedudukannya untuk memerintah wilayah kerajaan secara turun temurun. Serta meninggalkan sistem pemerintahan kepala suku.
4.    Bidang Pendidikan
Masuknya Hindu-Budha juga mempengaruhi kehidupan masyarakat Indonesia dalam bidang pendidikan. Sebab sebelumnya masyarakat Indonesia belum mengenal tulisan. Namun dengan masuknya Hindu-Budha, sebagian masyarakat Indonesia mulai mengenal budaya baca dan tulis. 
    Bukti pengaruh dalam pendidikan di Indonesia yaitu :
·      Dengan digunakannya bahasa Sansekerta dan Huruf Pallawa dalam kehidupan sebagian masyarakat Indonesia. Bahasa tersebut terutama digunakan di kalangan pendeta dan bangsawan kerajaan. Telah mulai digunakan bahasa Kawi, bahasa Jawa Kuno, dan bahasa Bali Kuno yang merupakan turunan dari bahasa Sansekerta.
·    Telah dikenal juga sistem pendidikan berasrama (ashram) dan didirikan sekolah-sekolah khusus untuk mempelajari agama Hindu-Budha. Sistem pendidikan tersebut kemudian diadaptasi dan dikembangkan sebagai sistem pendidikan yang banyak diterapkan di berbagai kerajaan di Indonesia.
5.    Kepercayaan
Sebelum masuk pengaruh Hindu-Budha ke Indonesia, bangsa Indonesia mengenal dan memiliki kepercayaan yaitu pemujaan terhadap roh nenek moyang (animisme dan dinamisme). Masuknya agama Hindu-Budha mendorong masyarakat Indonesia mulai menganut agama Hindu-Budha walaupun tidak meninggalkan kepercayaan asli seperti pemujaan terhadap arwah nenek moyang dan dewa-dewa alam. Telah terjadi semacam sinkritisme yaitu penyatuaan paham-paham lama seperti animisme, dinamisme, totemisme dalam keagamaan Hindu-Budha.
    Contoh :
    Di Jawa Timur berkembang aliran Tantrayana seperti yang dilakukan Kertanegara dari Singasari yang merupakan penjelmaaan Siwa. Kepercayaan terhadap roh leluhur masih terwujud dalam upacara kematian dengan mengandakan kenduri 3 hari, 7 hari, 40 hari, 100 hari, 1 tahun, 2 tahun dan 1000 hari, serta masih banyak hal-hal yang dilakukan oleh masyarakat Jawa.
6.    Seni dan Budaya
Pengaruh kesenian India terhadap kesenian Indonesia terlihat jelas pada bidang-bidang dibawah ini:
     Seni Bangunan
Seni bangunan tampak pada bangunan candi sebagai wujud percampuran antara seni asli bangsa Indonesia dengan seni Hindu-Budha. Candi merupakan bentuk perwujudan akulturasi budaya bangsa Indonesia dengan India. Candi merupakan hasil bangunan zaman megalitikum yaitu bangunan punden berundak-undak yang mendapat pengaruh Hindu Budha. Contohnya candi Borobudur. Pada candi disertai pula berbagai macam benda yang ikut dikubur yang disebut bekal kubur sehingga candi juga berfungsi sebagai makam bukan semata-mata sebagai rumah dewa. Sedangkan candi Budha, hanya jadi tempat pemujaan dewa tidak terdapat peti pripih dan abu jenazah ditanam di sekitar candi dalam bangunan stupa.
    Seni Rupa
Seni rupa tampak berupa patung dan relief. Patung dapat kita lihat pada penemuan patung Budha berlanggam Gandara di Bangun Kutai. Serta patung Budha berlanggam Amarawati di Sikending (Sulawesi Selatan). Selain patung terdapat pula relief-relief pada dinding candi seperti pada Candi Borobudur ditemukan relief cerita sang Budha serta suasana alam Indonesia.
B.  Hasil Akulturasi Budaya Islam dengan Hindu di Indonesia
Sebelum Islam masuk dan berkembang, Indonesia sudah memiliki corak kebudayaan yang dipengaruhi oleh agama Hindu dan Budha seperti yang sudah dijelaskan diatas. Dengan masuknya Islam, Indonesia kembali mengalami proses akulturasi yang melahirkan kebudayaan baru yaitu kebudayaan Islam Indonesia. Masuknya Islam tersebut tidak berarti kebudayaan Hindu dan Budha hilang. Bentuk budaya sebagai hasil dari proses akulturasi tersebut, tidak hanya bersifat kebendaan/material tetapi juga menyangkut perilaku masyarakat Indonesia. Hasil akulturasi tersebut adalah sebagai berikut:
1.    Seni Bangunan
Wujud akulturasi dalam seni bangunan dapat terlihat pada bangunan masjid, makam, dan istana. Wujud akulturasi dari masjid kuno memiliki ciri sebagai berikut:
a.    Atapnya berbentuk tumpang yaitu atap yang bersusun semakin ke atas semakin kecil dari tingkatan paling atas berbentuk limas. Jumlah atapnya ganjil 1, 3 atau 5. Dan biasanya ditambah dengan kemuncak untuk memberi tekanan akan keruncingannya yang disebut dengan Mustaka.
b.    Tidak dilengkapi dengan menara, seperti lazimnya bangunan masjid yang ada di luar Indonesia atau yang ada sekarang, tetapi dilengkapi dengan kentongan atau bedug untuk menyerukan adzan atau panggilan sholat. Bedug dan kentongan merupakan budaya asli Indonesia.
c.    Letak masjid biasanya dekat dengan istana yaitu sebelah barat alun-alun atau bahkan didirikan di tempat-tempat keramat yaitu di atas bukit atau dekat dengan makam.
Mengenai contoh masjid kuno dapat memperhatikan Masjid Agung Demak, Masjid Gunung Jati (Cirebon), Masjid Kudus dan sebagainya. Selain bangunan masjid sebagai wujud akulturasi kebudyaan Islam, juga terlihat pada bangunan makam.


2.    Seni Rupa
Tradisi Islam tidak menggambarkan bentuk manusia atau hewan. Seni ukir relief yang menghias Masjid, makam Islam adalah berupa suluran tumbuh-tumbuhan. Namun terjadi pula Sinkretisme (hasil perpaduan dua aliran seni logam), agar didapat keserasian, ditengah ragam hias suluran terdapat bentuk kera yang distilir. Ukiran ataupun hiasan, selain ditemukan di masjid juga ditemukan pada gapura-gapura atau pada pintu dan tiang.Untuk hiasan pada gapura.
3.      Aksara dan Seni Sastra 
Tersebarnya agama Islam ke Indonesia maka berpengaruh terhadap bidang aksara atau tulisan, yaitu masyarakat mulai mengenal tulisan Arab, bahkan berkembang tulisan Arab Melayu atau biasanya dikenal dengan istilah Arab gundul yaitu tulisan Arab yang dipakai untuk menuliskan bahasa Melayu tetapi tidak menggunakan tanda-tanda a, i, u seperti lazimnya tulisan Arab. Di samping itu juga, huruf Arab berkembang menjadi seni kaligrafi yang banyak digunakan sebagai motif hiasan ataupun ukiran.


Sedangkan dalam seni sastra yang berkembang pada awal periode Islam adalah seni sastra yang berasal dari perpaduan sastra pengaruh Hindu-Budha dan sastra Islam yang banyak mendapat pengaruh Persia. Dengan demikian wujud akulturasi dalam seni sastra tersebut terlihat dari tulisan/ aksara yang dipergunakan yaitu menggunakan huruf Arab Melayu (Arab Gundul) dan isi ceritanya juga ada yang mengambil hasil sastra yang berkembang pada jaman Hindu. Bentuk seni sastra yang berkembang adalah:
a.    Hikayat yaitu cerita atau dongeng yang berpangkal dari peristiwa atau tokoh sejarah. Hikayat ditulis dalam bentuk peristiwa atau tokoh sejarah.Hikayat ditulis dalam bentuk gancaran (karangan bebas atau prosa).Contoh hikayat yang terkenal yaitu Hikayat 1001 Malam, Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Pandawa Lima (Hindu), Hikayat Sri Rama (Hindu).
b. Babad adalah kisah rekaan pujangga keraton sering dianggap sebagai peristiwa sejarah contohnya Babad Tanah Jawi (Jawa Kuno), Babad Cirebon.
c.  Suluk adalah kitab yang membentangkan soal tasawuf contohnya Suluk Sukarsa, Suluk Wijil, Suluk Malang Sumirang dan sebagainya.
d.  Primbon adalah hasil sastra yang sangat dekat dengan Suluk karena berbentuk kitab yang berisi ramalan-ramalan, keajaiban dan penentuan hari baik/buruk. Bentuk seni sastra tersebut di atas, banyak berkembang di Melayu dan Pulau Jawa.


  

4.    Sistem Pemerintahan
Dalam pemerintahan, sebelum Islam masuk ke Indonesia, sudah berkembang pemerintahan yang bercorak Hindu ataupun Budha, tetapi setelah Islam masuk, maka kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu/Budha mengalami keruntuhannya dan digantikan peranannya oleh kerajaan-kerajaan yang bercorak Islam seperti Samudra Pasai, Demak, Malaka dan sebagainya. Sistem pemerintahan yang bercorak Islam, rajanya bergelar Sultan atau Sunan seperti halnya para wali dan apabila rajanya meninggal tidak lagi dimakamkan dicandi/dicandikan tetapi dimakamkan secara Islam.



5.    Sistem Kalender
Sebelum budaya Islam masuk ke Indonesia, masyarakat Indonesia sudah mengenal Kalender Saka (kalender Hindu) yang dimulai tahun 78M. Dalam kalender Saka ini ditemukan nama-nama pasaran hari seperti legi, pahing, pon, wage dan kliwon. Setelah berkembangnya Islam Sultan Agung dari Mataram menciptakan kalender Jawa, dengan menggunakan perhitungan peredaran bulan (komariah) seperti tahun Hijriah (Islam). Pada kalender Jawa, Sultan Agung melakukan perubahan pada nama-nama bulan seperti Muharram diganti dengan Syuro, Ramadhan diganti dengan Pasa. Sedangkan nama-nama hari tetap menggunakan hari-hari sesuai dengan bahasa Arab dan bahkan hari pasaran pada kalender saka juga dipergunakan. Kalender Sultan Agung tersebut dimulai tanggal 1 Syuro 1555 Jawa, atau tepatnya 1 Muharram 1053 H yang bertepatan tanggal 8 Agustus 1633 M.



Demikianlah pembahasan mengenai akulturasi dan interkultural, yang mana ternyata keduanya memiliki kaitan (relasi) yang sangat jelas, dan bukan merupakan hal yang terpisah.







Daftar Pustaka


Sumber Buku: 
Matsumoto, David dan Linda Juang. 2008. Culture and Psychology. USA: Wadsworth

Sumber Jurnal:
Berry, W John. 2005. Acculturation: Living Successfully in Two Cultures. International Journal of Intercultural Relations. Vol 29. Hal 697-712

Sumber Web:
Anonim. 2006. Komunikasi Antarbudaya. http://id.wikipedia.org/wiki/Komunikasi_antarbudaya. Diakses tanggal 6 Oktober   
Arianto, Galih. 2010. Akulturasi Budaya Hindu-Budha-Islam di Indonesia. http://galihredevils.blogspot.com/2010/10/akulturasi-budaya-hindu-budha-islam-di.html. Diakses tanggal 21 Oktober