Minggu, 24 Maret 2013

Terapi dengan Pendekatan Eksistensial-Humanistik


Terapi dengan Pendekatan Eksistensial-Humanistik

Viktor Frankl

Rollo May

















Pendekatan eksistensial-humanistik pada hakikatnya mempercayai bahwa individu memiliki potensi untuk secara aktif memilih dan membuat keputusan bagi dirinya sendiri dan lingkungannya. Pendekatan ini sangat menekankan tentang kebebasan yang bertanggung jawab. Jadi individu diberikan kebebasan seluas-luasnya dalam melakukan tindakan, tetapi harus berani bertanggung jawab sekalipun mengandung resiko bagi dirinya. Menurut Buhler dan Allen dalam Lubis (2011), seorang ahli psikologi humanistik harus memiliki orientasi bersama yang mencakup hal-hal berikut:
1.      Menyadari pentingnya pendekatan dari pribadi ke pribadi.
2.      Menyadari peran dan tanggung jawab terapis.
3.      Mengakui adanya hubungan timbal balik dalam hubungan konseling atau terapi.
4.      Konselor atau terapis harus terlibat sebagai pribadi yg menyeluruh dengan klien.
5.      Mengakui bahwa keputusan dan pilihan akhir terletak di tangan klien.
6.      Memandang konselor atau terapis sebagai model yang dapat menunjukan pada klien potensi bagi tindakan yang kreatif dan positif.
7.      Memberi kebebasan pada klien untuk mengungkapkan pandangan, tujuan, dan nilainya sendiri.
8.      Mengurangi ketergantungan klien serta meningkatkan kebebasan klien.

Pendekatan Eksistensial-Humanistik dikembangkan oleh Victor Frankl, Rolo May, Irvin Yalom, James Bugental, dan Medars Boss. Tokoh yang dikatakan perintis awal perkembangan eksistensial-humanistik ini adalah Frankl dan May. Frankl dulunya memiliki kehidupan yang tidak menyenangkan, menderita dan banyak kepedihan. Ia adalah seorang yahudi. Saat itu adalah zaman Nazi dimana Hitler memerintahkan semua orang yahudi untuk ditahan di suatu perkemahan. Seluruh keluarga Frankl, anak dan istrinya ditahan di perkemahan tersebut, hingga akhirnya seluruh anak dan istrinya meninggal dunia. Hanya tersisa ia seorang diri. Sedangkan May memiliki latar belakang hidup yang tidak jauh berbeda dengan Frankl, yaitu kehidupan yang tidak bahagia. Sudah dua kali May gagal membina pernikahannya dan itu membuatnya sangat terpukul. Berdasarkan latar belakang kehidupan yang seperti itulah mereka kemudian menciptakan suatu teori yag kita kenal sebagi Humanistik-Eksistensial. Teori yang memandang manusia secara positif. Manusia dilihat dapat menyelesaikan masalahnya sendiri, memiliki potensi untuk berkembang dengan penuh, dan lain-lain. Hal ini merupakan kebalikan dari teori psikoanalisa yang memandang manusia secara negatife. Jadi teori mereka ini didasari oleh pengalaman hidup mereka sendiri.




Psikologi eksistensial-humanistik berfokus pada kondisi manusia. Pendekatan ini terutama adalah suatu sikap yang menekankan pada pemahaman atas manusia. Dalam mengembangkan teorinya, psikologi eksistensial-humansistik sangat memperhatikan tentang dimensi manusia dalam berhubungan dengan lingkungannya, secara manusiawi dengan menitik beratkan pada kebebasan individu untuk mengungkapkan pendapat dan menetukan pilihannya, nilai-nilai tanggung jawab personal, otonomi, tujuan dan pemaknaan. Konsep-konsep utama dalam pendekatan eksistensial-humanistik adalah
1. Kesadaran diri
Manusia memiliki kesanggupan untuk menyadari dirinya sendiri, suatu kesanggupan yang unik dan nyata yang memungkinkan manusia mampu berpikir dan memutuskan. Semakin besar kesadaran dirinya, maka semakin besar pula kebebasannya untuk memilih altrnatif-alternatif. Kebebasan memilih dan bertindak itu disertai dengan tanggung jawab. Manusia bertanggung jawab atas keberadaan dan nasibnya.

 2. Kebebasan, tanggung jawab dan kecemasan
Kesadaran akan kebebasan dan tanggung jawab bisa menimbulkan kecemasan yang menjadi atribut dasar pada manusia. Kecemasan juga bisa diakibatkan oleh kesadaran atas keterbatasannya dan atas kemungkinan yang tak terhindarkan untuk mati (Nonbeing).

 3. Penciptaan Makna
Manusia berusaha untuk menemukan tujuan hidup dan menciptakan nilai-nilai yang akan memberikan makna bagi kehidupan. Menjadi manusia juga berarti  menghadapi kesendirian. Manusia memiliki kebutuhan untuk berhubungan dengan sesamanya dalam suatu cara yang bermakna. Manusia juga berusaha untuk mengaktualisasikan diri, yakni mengungkapkan potensi-potensi manusiawinya. Apabila gagal mengaktualisasikan dirinya, maka ia bisa menjadi “sakit”.

Tujuan Terapi Humanistik-Eksistensial


Tujuan dasar dari berbagai macam terapi adalah membuat individu mampu menerima kebebasan dan tanggung jawab dalam bertindak. Terapi eksistensial bertujuan untuk membuat klien menyadari bahwa mereka tidak sepenuhnya hidup dalam kenyataan dan mampu membuat pilihan yang dapat mereka jalani. Orientasi dari eksistensial adalah tidak ada kata “melarikan diri” dari kebebasan, karena kita selalu dapat bertanggung jawab. Kita dapat melepaskan kebebasan kita, apabila itu bukan kebebasan yang sebenarnya, artinya kita boleh melepaskan kebebasan yang palsu (semu). Terapi eksisitensial membantu klien untuk keluar dari kehidupan (alur hidup) sehari-harinya yang kaku (tidak fleksibel) dan mengkonfrontasi (melawan) kecenderungan yang kompulsif dan dangkal, yang menghalangi kebebasan mereka. Walaupun proses ini memberikan individu persaan lepas, bebas, meningkatkan kemandirian, namun kebebasan yang baru akan membawa kecemasan (Corey, 1996).
Kebebasan adalah menaruh resiko pada suatu jalan baru, dimana tidak ada keyakinan atau kepastian mengenai jalan tersebut. Kepeningan dan ketakutan harus dapat dikonfrontasi (dilawan) jika menginginkan adanya perubahan (May dalam Corey, 1996). Banyak ketakutan akan beratnya tanggung jawab yang harus diemban seperti “Siapa mereka sekarang?” dan “Akan menjadi apa mereka kemudian?” Untuk dapat menjawabnya, Mereka harus memilih. Sebagai  contoh, lebih memilih untuk berpegang teguh pada hal yang telah diketahui (familiar) atau membuka diri terhadap suatu resiko yang memiliki sedikit kepastian, dan menantang hidup? Kurangnya kehidupan yang terjamin, yang pasti, akan menimbulkan kecemasan. Untuk itu terapi eksistensial membantu klien menghadapi kecemasan tersebut dan bertindak yang didasarkan pada tujuan yang sebenarnya, yang membuat eksistensi (keberadaannya) berharga.
May dalam Corey (1996) berpendapat orang-orang datang ke tempat terapi dengan ilusi diri yang dibuatnya sendiri (sel- serving illusion) yang membuat hati atau batin mereka diperbudak olehnya, dan terapis dapat membebaskan mereka dari hal tersebut. Tujuan psikoterapi adalah bukan untuk mengobati klien secara lazim, tetapi untuk membantu mereka menjadi sadar terhadap apa yang sedang mereka lakukan atau perbuat dan mengeluarkan mereka dari peran sebagai korban. Tugas terapi eksisitensial adalah mengajari klien untuk mendengarkan apa yang telah mereka ketahui tentang diri mereka, walaupun mereka mungkin tidak sadar (tidak mengerti) dari apa yang mereka ketahui tersebut. Menurut Bugental dalam Corey (1996) Terapi adalah proses membawa keluar kehidupan klien yang tersembunyi atau terpendam. Bugental mengidentifikasi tiga tugas terapi yaitu:
1.      Membantu klien menyadari bahwa diri mereka tidak hadir sepenuhnya dalam proses terapi itu sendiri dan melihat bagaimana hal tersebut membatasi dirinya dalam terapi tersebut.
2.      Mendukung klien dalam melawan kecemasan mereka.
3.      Membantu klien menemukan kembali dirinya dan dunianya sehingga dapat berkembang dengan sebenarnya untuk berinteraksi dengan dunianya.
Singkatnya, meningkatkan kesadaran adalah tujuan utama dari terapi eksistensial. Mengacu pada Bugental, terapis membimbing klien untuk menemukan kemungkinan-kemungkinan alternatif yang ada, yang tidak disadari sebelumnya sehingga kemudian mereka mampu untuk membuat perubahan-perubahan terhadap eksistensinya di dunia. Secara ringkas, tujuan terapi dalam pendekatan eksistensial-humanistik dikutip Corey dalam Lubis (2011) adalah sebagai berikut:
1.      Memaksimalkan kesadaran diri dan pertumbuhan
2.      Menghapus penghambat aktualisasi potensi pribadi
3.      Membantu klien menemukan dan menggunakan kebebasan memilih dengan memperluas kesadaran diri,
4.      Membantu klien agar bebas dan bertanggung jawab atas arah kehidupannya sendiri.
Terapi Humanistik bertujuan agar klien mengalami keberadaannya secara otentik dengan menjadi sadar atas keberadaan dan potensi-potensi serta sadar bahwa ia dapat membuka diri dan bertindak berdasarkan kemampuannya. Bugental dalam Corey (1996) menyebut keotentikan sebagai “uraian utama psikoterapi” dan “nilai eksistensial pokok”. Terdapat tiga karakteristik dari keberadaan otentik: (1) menyadari sepenuhnya keadaan sekarang, (2) memilih bagaimana hidup pada saat sekarang, dan (3) memikul tanggungjawab untuk memilih. Kilen yang neurotik adalah orang yang kehilangan rasa ada, dan tujuan terapi adalah membentuknya agar ia memperoleh atau menemukan kembali kemanusiannya yang hilang.

Fungsi dan Peran Terapis


Fokus utama terapi eksistensial adalah memahami dunia subjektif klien untuk membantu mereka memiliki pemahaman baru dan pilihan. Jadi fokusnya pada kehidupan saat ini, bukan dengan membantu klien menemukan kembali pengalaman masa lalunya (May dan Yalom dalam Corey, 1996). Terapis eksistensial menggunakan beberapa teknik seperti desentisasi, asosiasi bebas, atau restrukturisasi kognitif, dan membimbing klien untuk mendapatkan insight. Tidak ada seperangkat teknik yang di spesifikasikan (fischer dan fischer dalam Corey, 1996). Di sisi lain, beberapa terapis eksistensial membenci teknik-teknik, mereka melihat suatu teknik terapi sebagai hal yang kaku, rutin, dan manipulatif. Dalam proses terapi ini, teknik digunakan sebagai cadangan untuk membangun hubungan yang membuat terapis secara efektif mampu menantang dan memahami klien.
Terapis eksistensial, terutama menaruh perhatian pada klien yang menghindari tanggung jawab. Terapis meminta klien untuk dapat menerima tanggung jawab pribadinya. Ketika klien mengeluh tentang keadaan yang sulit dan menyalahkan orang lain, terapis biasanya bertanya bagaimana mereka mendapatkan situasi ini. Terapis biasanya membuat perjanjian dengan orang-orang yang membatasi eksisitensinya (restricted existence). Klien seperti ini biasanya memiliki kesadaran diri yang terbatas dan sering tidak memahami masalah mereka. Mereka mungkin melihatnya dan menghadapi situasi hidup secara sempit, hanya melihat sedikit pilihan walaupun sebenarnya terdapat beberapa pilihan dan mereka merasa terperangkap dan tidak berdaya (Corey, 1996).
Tugas utama dari terapi adalah untuk mengkonfrontasi klien yang hidup dengan cara membatasi eksistensi dirinya dan membantu mereka menjadi sadar akan bagain diri mereka dalam menciptakan atau membuat kondisi tersebut. Dapat dikatakan terapis sebagai kaca yang berbicara, jadi klien secara berangsur-angsur dapat mengkonfrontasi dirinya sendiri. Dengan begitu klien dapat melihat bagaimana mereka menjadi diri mereka apa adanya dengan cara mereka sendiri dan bagaimana mereka dapat memperluas cara hidup mereka. Ketika mereka sadar akan faktor-faktor di masa lalu, mereka mulai bisa menerima tanggung jawab untuk perubahan di masa depan (Corey, 1996).
Pengalaman Klien dalam Terapi
Klien dalam terapi eksistensial diminta untuk secara serius menceritakan pengalaman subjektif mereka tentang dunia. Mereka ditantang untuk menerima tanggung jawab mengenai yang akan mereka pilih sekarang dalam dunia mereka. Terapi yang efektif tidak hanya berhenti dengan kesadaran diri yang diperoleh klien, tetapi juga pada tindakan yang didasarkan pada insight yang berkembang dari klien melalui proses terapi. Klien diharapkan dapat keluar dari dunianya dan memutusdkan bagaimana mereka akan hidup secara berbeda. Mereka harus aktif dalam proses terapi, selama sesi terapi mereka harus memutuskan ketakutan, rasa bersalah dan kecemasan apa yang akan mereka eksplor (jelajahi). Memutuskan untuk memasuki psikoterapi, seringnya dianggap sebagai hal yang menakutkan, hal ini dapat terlihat dari sedikit tulisan  seorang klien yang dikutip dari Corey (1996)
“Saya memulai terapi pribadi hari ini. Saya merasa takut, tapi saya tidak tahu apa yang saya takuti. Sekarang saya tahu. Pertama, saya takut dengan diri Jerry. Dia memiliki kekuasaan untuk mengubah saya. Saya yang memberinya kekuasaan tersebut, dan saya tidak dapat kembal lagi. Hal itu benar-benar membuat saya putus asa, saya tidak akan pernah bisa kembali lagi selamanya. Saya sedih dan takut akan hal ini Saya sedih karena saya tidak bisa kembali. Saya membuka pintu di dalam diri saya, dan saya takut akan apa yang ada disana, sebuah diri saya yang baru, yang memandang dan berhubungan dengan orang-orang secara berbeda. Saya rasa saya cemas akan segalanya, tapi yang paling utama saya takut adalah dengan diri saya. Saya meledakkan rasa aman keluar dari hidup saya dan saya benar-benar takut akan menjadi orang seperti apa yang mereka inginkan.”
Melalui proses terapi, klien dapat mengeksplor alternatif (pilihan lain) untuk membuat penglihatan mereka menjadi nyata. Ketika klien merasa tidak berdaya kemudian membuat alasan dan berusaha meyakinkan kita bahwa dirinya benar-benar tidak berdaya, May dalam Corey (1996) mengingatka bahwa perjalanan mereka menuju kebebasan dimulai dengan melangkahkan kaki di depan kaki-kaki lain. Setiap menit yang mereka rangkai untuk memperoleh kebebasan, mungkin dapat dimulai dengan melangkah lebih awal.
Aspek lain mengenai pengalaman klien dalam terapi eksistensial adalah mengkonfrontasi atau melawan pertanyaan-pertanyaan secara langsung daripada memecahkan masalah. May dalam Corey (1996) menulis “pengalaman-pengalaman besar, seperti melahirkan, kematian, percintaan, kecemasan, rasa bersalah, bukanlah masalah untuk diselesaikan, tetapi merupakan paradoks yang harus dikonfrontasi dan diakui. Penyelesaian masalah hanya dibicarakan untuk membuat paradoks-paradoks tersebut mrenjadi lebih jelas. Beberapa tema besar dalam sesi terapi adalah kecemasan, kebebasan dan tanggung jawab, isolasi, kematian, dan dampaknya terhadap kehidupan dan pencarian makna yang berkesinambungan.

Hubungan antara Klien dengan Terapis

Hubungan dengan klien adalah hal yang sangat penting dalam terapi eksistensial, bukan untuk menimbulkan transferensi, tetapi lebih kepada kualitas hubiungan tersebut dimana situasi terapi adalah sebagai stimulus untuk membuat perubahan yang positif. Karakteristik personal dan sikap dasar yang harus dimiliki terapi adalah kejujuran, integritas, dan keteguhan hati yang mereka berikan. Buber dalam Corey (1996) mengatakan mudah bagi konselor untuk tesenyum dan menggangguk tanpa benar-benar mendengarkan dan hadir untuk klien. Klien akan merasakan ketidakhadiran atau kurangnya kehadiran tersebut, yang pada akhirnya akan berdampak negatif terhadap hubungan terapis dengan klien.
Terapis bereaksi terhadap klien dengan tidak dibuat-buat (otentik atau apa adanya) dan empati, hal itu adalah salah satu cara untuk memperdalam hubungan terapi. Bugental dalam Corey (1996) menekankan peran yang penting sekali, yaitu “kehadiran terapis”. Kehadiran terapis memainkan peran penting dalam membina hubungan dengan klien. Dia berpendapat bahwa terapis seringkali terlalu fokus pada isi pembicaraan klien yang pada akhirnya ia tidak menyadari membuat jarak antara dirinya dengan klien, lebih lanjut ia mengatakan bahwa konsep terapis disini bukan sebagai observer-teknisi yang tidak tertarik dengan isi pembicaraan klien tetapi sebagai sahabat, sebagai manusia yang ada sepenuhnya untuk klien, seperti mendengarkan klien dengan sepenuh hati bukan pada isi pembicaraannya saja, tetapi juga ikut merasakan apa yang klien rasakan serta menghargainya.
May dan Yalom dalam Corey (1996) juga menekankan peran penting terapis, yaitu berada “disana” untuk klien dan hadir sepenuhnya serta secara intens terlibat. Mereka mengingatkan jika klien merasa terapis hilang atau tidak ada atau tidak hadir sepenuhnya, maka mereka gagal mencapai (memperoleh) pertemuan yang sebenarnya dimana hal itu sangat penting dan diinginkan oleh klien. Inti dari hubungan terapi adalah “menghargai”, yang berdampak pada potensi klien untuk menyelesaikan masalah secara otentik dan kemampuan mereka untuk menemukan cara alternatif lainnya. Klien biasanya menjadi dapat melihat diri mereka sebagai orang yang aktif dan bertanggung jawab untuk eksistensinya, dimana sebelum terapi mereka merasa dan memandang diri mereka tidak berdaya. Mereka mengembangkan peningkatan kemampuan untuk menerima dan mengkonfrontasi kebebasan yang mereka miliki.
Terapis membuat klien tumbuh atau berubah dengan meniru perilaku yang otentik (apa adanya, tidak dibuat-buat). Jika terapis menyembunyikan diri mereka selama sesi terapi atau mereka tidak memperlihatkan perilaku mereka apa adanya, maka klien juga akan hati-hati dan berperilaku dengan cara yang tidak otentik atau palsu. Maka dari itu, terapis dapat membantu klien untuk tidak merasa asing terhadap dirinya dengan menseleksi respon-respon yang terbuka. Tentu saja, keterbukaan disini bukan berarti berbagi pikiran dan perasaan tanpa sensor (uncensored), namun lebih kepada bersedia mempertahankan reaksi yang apa adanya pada kilen (Corey, 1996).
Aplikasi: Teknik dan Prosedur Terapi


Pendekatan eksistensial tidak seperti kebanyakan terapi-terapi lainnya, pendekatan ini tidak berorientasi dan tidak mendefinisikan seperangkat teknik tertentu. Intervensinya berdasarkan pandangan filosofis mengenai eksistensi manusia secara alamiah. Terapi eksistensial bebas mengambarkan teknik dengan berbagai macam orientasi. Mereka memiliki seperangkat asumsi dan sikap yang membimbing intervensi mereka pada klien.
Van Deurzen Smith dalam Corey (1996) menekankan bahwa pendekatan eksistensial di kenal tidak menekankan teknik-teknik, tetapi menekankan pentingnya terapis untuk menggali secara dalam dan membuka diri mereka untuk mengambil resiko dalam menyelesaikan permasalahan klien tanpa ketinggalan sedikit pun informasi dari klien. Dia mengingatkan bahwa terapi eksistensial adalah pengalaman kolaboratif dimana klien dan terapis akan mengalami perubahan jika mereka saling membuka diri.
Baldwin dalam Corey (1996) mengemukakan bahwa inti dari terapi ini adalah penggunaan diri terapis itu sendiri. Ketika bagian diri terdalam dari terapis bertemu dengan bagian diri terdalam dari klien maka proses terapi tersebut berlangsung sangat baik. Terapi adalah proses penemuan yang kreatif yang dapat di konseptualisasikan dalam 3 fase umum, yaitu:
Fase pertama
1.      Terapis membantu klien dalam mengidentifikasi dan mengklarifikasi asumsi mereka tentang dunia.
2.      Klien diminta menemukan dan mempertanyakan apa yang mereka rasakan dan perasaan mengenai eksistensi diri mereka.
3.      Mereka menguji kembali nilai-nilai, keyakinan, dan asumsi-asumsi mereka untuk menunjukan kevaliditasan.
Fase kedua
1.      Klien diminta mengeluarkan sumber dayanya secara penuh yang disebut dengan eksplorasi diri yang dapat menimbulkan insght baru dan restrukturisasi sikap dan nilai-nilai.
2.      Klien mendapatkan ide yang baik mengenai hidup yang mereka anggap berarti bagi mereka. Mereka mengembangkan perasaan yang jelas mengenai proses nilai dalam diri mereka.
Fase ketiga
Fase terakhir yaitun fokus untuk membantu klien belajar mengenali dirinya. Hasil terapi yang dicapai adalah klien mampu menemukan cara mengimplementasikan dan menginternalisasikan nilai-nilai dengan cara yang konkrit. Klien dapat menemukan kelebihan diri mereka dan mebuatnya dapat hidup secara bermakna.
  
Kelebihan dan Kelemahan Terapi Eksistensial-Humanistik
Kelebihan Terapi Eksistensial-Humanistik
1.      Teknik ini dapat digunakan bagi klien yang mengalami kekurangan dalam perkembangan dan kepercayaan diri.
2.      Adanya kebebasan klien untuk mengambil keputusan sendiri.
3.      Memanusiakan manusia.
4.      Bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan sikap, analisis terhadap fenomena sosial.
5.      Pendekatan terapi eksistensial lebih cocok digunakan pada perkembangan klien seperti masalah karier, kegagalan dalam perkawinan, pengucilan dalam pergaulan ataupun masa transisi dalam perkembangan dari remaja menjadi dewasa

Kelemahan Terapi Eksistensial-Humanistik
1.      Dalam metodologi, bahasa dan konsepnya yang mistikal
2.      Dalam pelaksanaannya tidak memiliki teknik yang tegas.
3.      Terlalu percaya pada kemampuan klien dalam mengatasi masalahnya (keputusan ditentukan oleh klien sendiri)
4.      Memakan waktu lama.
Pendekatan eksistensial-humanistis bukanlah suatu aliran terapi dan bukan pula suatu teori tunggal yang sistematik. Pendekatan ini merupakan pendekatan yang mencakup terapi-terapi yang berlainan tetapi berlandaskan konsep dan asumsi tentang manusia.


DAFTAR PUSTAKA
Feist, Jess dan Feist, Gregory. (2010). Theories of Personality. USA: Mc Graw Hill
Corey, Gerald. (1996). Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy. USA: Brooks Cole
Lubis, Lumongga Namora. (2011). Memahami Dasar-Dasar Konseling dalam Teori dan Praktik. Jakarta: Kencana Prenada Media Group


Minggu, 17 Maret 2013

Lirik Lagu OST Marry is Out at Night- Hello Hello by Jang Geun Suk

[LYRICS] Hello Hello - Jang Geun Suk ( Marry Stayed Out All Night OST ) Hangul


답답한 거리 위를 서성이던 나에게
스쳐 들리는 무심한 그 한마디
Hello, Hello
조금 낯설어도 어색하지 않았던 좋은 느낌

너에게 기대어도 되는걸까
걱정스레 몹시 구겨진
진심을 펼쳐보이며
Thank you, Thank you
그저 고맙다는 솔직함이 전해지고 있어

그래요
Hello, Hello 귀여운 나의 천사여
언제나 나의 곁을 지켜줘요
그리고
Thank you, Thank you
너에게 하고 싶은 한 마디
No no no no
고맙다는 그 말 뿐이죠

일부러 틀리는게 쉽진 않아
그럴수록 견뎌 내는게 후회만 될테니까
I know, I know
그저 웃고있는 삐에로가 좋을지도 몰라

때 묻지 않은채로 일어설 수 있을까
털어내봐도 아픔은 쌓이지만
She knows, She knows
이제 더 이상은 혼자만의 내일이 아니야

그래요
Hello, Hello 귀여운 나의 천사여
언제나 나의 곁을 지켜줘요
그리고
Thank you, Thank you
너에게 하고 싶은 한 마디
No no no no
고맙다는 그 말 뿐이죠

수없이 맞 대왔던 그 모든 세상에게
인사하는 법을 가르쳐준 그대죠
내 맘에 넘쳐나는 이 멜로디를
너와 함께 지켜갈거야

그래요
Hello, Hello 귀여운 나의 천사여
언제나 나의 곁을 지켜줘요
그리고
Thank you, Thank you
너에게 하고 싶은 한 마디
No no no no

사랑한단 고백보다
고맙다는 그 한마디로
내 모든 맘을 전해요

[LYRICS] Hello Hello - Jang Geun Suk ( Marry Stayed Out All Night OST ) Romanization

dapdaphan gori wireul sosongidon naege
seuchyo deullineun musimhan geu hanmadi
Hello, Hello
  jogeum natsorodo osekhaji anatdon joheun neukkim

noege gideodo dwineun-golkka
gokjongseure mopsi gugyojin
jinsimeul pyolchyoboimyo
Thank you, Thank you
geujo gomapdaneun soljikhami jonhejigo isso

geureyo
Hello, Hello gwiyoun naye chonsayo
onjena naye gyoteul jikyojwoyo
geurigo
Thank you, Thank you
noege hago sipeun han madi
No no no no
gomapdaneun geu mal ppunijyo

ilburo teullineun-ge swipjin ana
geurolsurok gyondyo neneun-ge huhwiman dwiltenikka
I know, I know
geujo utgoitneun ppieroga joheuljido molla

tte mutji aneunchero irosol su isseulkka
toronebwado apeumeun ssahijiman
She knows, She knows
ije do isangeun honjaman eui neiri aniya

geureyo
Hello, Hello gwiyoun naye chonsayo
onjena naye gyoteul jikyojwoyo
geurigo
Thank you, Thank you
noege hago sipeun han madi
No no no no
gomapdaneun geu mal ppunijyo

suopsi mat dewatdon geu modeun sesangege
insahaneun bobeul gareuchyojun geudejyo
ne mame nomchyonaneun i mellodireul
nowa hamkke jikyogalgoya

geureyo
Hello, Hello gwiyoun naye chonsayo
onjena naye gyoteul jikyojwoyo
geurigo
Thank you, Thank you
noege hago sipeun han madi
No no no no

saranghandan gobekboda
gomapdaneun geu hanmadiro
ne modeun mameul jonheyo

[LYRICS] Hello Hello - Jang Geun Suk ( Marry Stayed Out All Night OST ) English

I was standing around on the narrow street
when those indifferent words grazed by me
Hello, hello
Unfamiliar but not awkward, it felt nice

Would it be okay to lean on you?
With concern, that wrinkled sincerity unfolds in front of me
Thank you, thank you
Conveying my simple, thankful honesty

That’s true
Hello, hello, my cute angel
  Stay by my side always
Also
Thank you, thank you
That’s what I want to tell you
No no no no no
Just the words thank you

It’s not easy to be deliberately wrong
because the more you do, the more you’ll regret enduring it
I know, I know
Maybe it’s better for that smiling Pierrot

Would I be able to stand up without becoming dirtied?
Though I brush myself off, the pain builds
She knows, she knows
No longer is tomorrow only mine
 
That’s true
Hello, hello, my cute angel
Stay by my side always
Also
Thank you, thank you
That’s what I want to tell you
No no no no no
Just the word thank you

The world I’ve confronted so many times
You’ve taught me to greet it
My heart overflows with this melody
I’ll go on together with you

That’s true
Hello, hello, my cute angel
Stay by my side always
Also
Thank you, thank you
That’s what I want to tell you
No no no no no
Just the word thank you

More than a love confession
I just want to say thank you
From the bottom of my heart



Sabtu, 16 Maret 2013

Terapi dengan Pendekatan Psikoanalisa



Terapi dengan Pendekatan Psikoanalisa

Dunia terapi memiliki berbagai macam pendekatan yang dapat dijadikan acuan dasar pada semua praktik terapi. Teori mengenai psikoterapi merupakan landasan dasar terbentuknya terapi yang efektif. Masing-masing teori tentu saja dikemukakan oleh ahli yang berbeda sehingga penerapan dari pendekatan yang digunakan juga akan terlihat berbeda. Terapi dengan pendekatan psikoanalisa dirintis oleh tokoh yang bernama Sigmund Freud. Freud lahir di Wina pada tahun 1856. Beliau hidup dalam lingkungan keluarga yang bisa dikatakan cukup keras dan sangat disiplin. Ayahnya sangat otoriter. Keuangan keluarga Freud juga sangat terbatas, dapat dikatakan pas-pas an. Orang tuanya membuat segala upaya untuk dapat mengembangkan intelektual anak-anaknya. Jadi walaupun hidup mereka pas-pas an, orang tuanya berusaha sekeras mungkin agar anaknya dapat sekolah. Latar belakang keluarga Freud yang seperti itulah yang menjadi salah satu faktor dasar perkembangan teorinya. Untuk dapat lebih memahami mengenai terapi dengan pendekatan psikoanalisa ini, maka baiknya saya akan ulas terlebih dahulu secara singkat mengenai dasar-dasar teori psikoanalisa dari Freud.
 Freud memandang manusia secara pesimis. Beliau memandang bahwa manusia itu dikendalikan oleh insting-insting dan setiap perilaku manusia dipengaruhi oleh alam bawah sadarnya (unconscious). Alam bawah sadar itu sangat luas, sedangkan alam sadar kita itu hanya sedikit. Peristiwa-peristiwa yang tidak menyenangkan yang masuk pada alam bawah sadar kita tanpa kita sadari akan mempengaruhi perilaku dan pribadi kita. Penekanan teori psikonalisa terhadap terapinya adalah pada alam bawah sadar manusia (unconscious) dan masa lalu, terutama masa lima tahun pertama kehidupan yang merupakan sumber-sumber patologis. Freud membagi struktur kepribadian menjadi 3, yaitu id (prinsip kenikmatan dan kebutuhan dasar, seperti makan, minum, seks), ego (prinsip kenyataan, yang memutuskan untuk bertindak sesuai dengan realitas) dan superego (nilai-nilai dan norma, yang ditanamkan oleh orang tua kita. Pengontrol perilaku agar sesuai dengan norma masyarakat). Ketika id menginginkan sesuatu yang harus dipenuhi sekarang juga, dan hal itu bertentangan dengan superego (nilai dan norma) dimana dorongan id lebih kuat, maka ego akan melakukan defense (pertahanan) yang disebut sebagai ego defense mechanism. Mekanisme pertahanan ego terdiri dari proyeksi, reaksi formasi, represi, regresi, fiksasi, displacement, dan sublimasi. Misalnya salah satu contoh dari displacement, Lula dimarahi oleh ayahnya karena terus menerus bermain dan tidak belajar. Ia merasa kesal sekali dengan ayahnya karena dimarahi. Ia merasa terancam dan takut jika meluapkan perasaan kesal tersebut pada ayahnya, maka akhirnya ia meluapkan perasaan kesal dan benci tersebut kepada adiknya, padahgal adiknya tidak salah.

 
Itulah sekilas mengenai teori psikoanalisa, sekarang fokus kembali pada bagaimanakah terapi dengan pendekatan psikoanalisa tersebut. Pada pendekatan Psikoanalisa, terapis membuat klien mengembangkan proyeksi terhadap terapis. Selanjutnya terapis berfokus pada resistensi yang berkembang dengan menangani transferensi dan pada pengembangan kendali yang lebih rasional. Klien akan mengalami analisis jangka panjang yang intensif dan terlibat dalam asosiasi bebas untuk menyingkap konflik. Terapis lalu membuat penafsiran untuk mengajarkan klien tentang makna tingkah lakunya sekarang sambil menghubungkannya dengan masa lalu klien. Tujuan terapi berdasarkan pendekatan Psikoanalisa menurut Corey dalam Lubis (2011), yaitu:
1.    Membuat hal-hal yang tidak disadari menjadi disadari.
2.    Merekonstruksi kepribadian dasar.
3.    Membantu klien menghidupkan kembali pengalaman-pengalaman masa kanak-kanak dengan menembus konflik-konflik yang di represi.
4.    Memunculkan kesadaran intelektual.
Menurut Lubis (2011) tujuan khusus psikoanalisa adalah membentuk kembali struktur kepribadian individu melalui pengungkapan hal-hal yang tidak disadari. Untuk itu, klien akan dibawa mundur kepada pengalaman masa kanak-kanaknya yang kemudian pengalaman tersebut akan dianalisis dan ditafsirkan sehingga terjadi rekonstruksi kepribadian pada diri klien. Cottone dalam Lubis (2011) menambahkan tujuan psikoanalisis adalah untuk memperkuat ego (ego strength) klien dan menempatkannya dalam posisi yang benar sehingga mampu memilih secara rasional. Ego strength bermakna sebagai kemampuan klien mengintegrasikan id dan superego tanpa ada konflik dan usaha represi. Selanjutnya tujuan psikoanalisa secara perinci juga dikemukakan oleh Nelson Jones dalam Lubis (2011), antara lain:
1.    Bebas dari impuls
2.    Memperkuat realitas atas dasar fungsi ego.
3.    Mengganti superego sebagai realitas kemanusiaan, bukan sebagai hukuman standar moral.  
Jadi, hal yang paling ditekankan dalam psikoanalisa adalah membuat konflik-konflik yang ada pada alam bawah sadar (unconscious) klien menjadi ke alam sadar (conscious), sehingga klien bisa mendapatkan insight dan pemahaman diri yang terkait dengan masa sekarang dan selanjutnya terjadi perubahan pada struktur kepribadiannya.

Peran dan Fungsi Terapis


Analis klasik seringnya memiliki sikap tanpa nama yang disebut juga anonim (terapis/analis berusaha tidak dikenal klien). Hal ini disebut juga sebagai pendekatan “blank screen”. Mereka dalam menganalisis hanya berbagi sedikit pengalaman dan perasaan (memiliki keterbukaan diri yang sedikit) dan memelihara perasaan netral untuk menjaga hubungan transferensi (pemindahan), sehingga klien dapat memproyeksikan dirinya kepada terapis. Terapis meyakini bahwa apabila ia berkata sedikit saja tentang dirinya dan jarang memperlihatkan reaksi mereka, peraaan klien terhadap terapis sebagian besar adalah hasl dari perasaan yang dikaitkan dengan figur signifikan di masa lalu. Proyeksi tersebut adalah hasil dari situasi yang tidak terselesaikan (unfinished business) dan direpresikan.
Menurut Corey (1996) fungsi utama dari terapis adalah untuk membantu klien memperoleh kebebasan akan cinta, pekerjaan dan bermain. Fungsi lainnya adalah membantu klien untuk mendapatkan kesadaran diri, jujur, mampu melakukan hubungan personal yang efektif, mampu menangani kecemasan secara realistis dan mampu mengendalikan tingkah laku yang impulsif dan rasional. Dalam melakukan proses terapi, terapis lebih banyak mendengarkan dan berusaha mengetahui kapan ia harus membuat penafsiran yang layak untuk mempercepat proses penyingkapan hal-hal yang tidak disadari. Fungsi utama dari interpretasi adalah mempercepat membongkar material-material yang tidak disadari. Terapis mendengarkan celah dan ketidakonsistenan dari cerita klien, menduga arti dari mimpi dan asosiasi bebas yang dilaporkan. Selain itu terapis harus hati-hati dalam mengobservasi selama sesi terapi dan sensitif terhadap petunjuk (clue) yang dirasakan oleh klien.
Willis dalam Lubis (2011) mengatakan bahwa seorang terapis harus peka terhadap bentuk resistensi klien, yaitu suatu keadaan di mana klien melindungi dirirnya agar perasaan, trauma dan kegagalannya tidak diketahui oleh terapis. Biasanya klien akan memunculkan bentuk-bentuk mekanisme pertahanan ego terhadap interpretasi yang tidak menyenangkan dari terapis. Hal yang unik dalam psikoanalisis menurut Lubis (2011) adalah ketika klien diminta berbaring pada suatu sofa yang nyaman, kemudian klien diminta menceritakan apa saja yang terlintas dalam pikirannya. Kesempatan inilah yang digunakan oleh terapis untuk mendengarkan kesenjangan dan pertentangan pada cerita klien, dan peka terhadap isyarat perasaan klien. Hal ini akan membantu untuk merumuskan permasalahan utama klien yang sebenarnya. Terapis mampu merumuskan masalah apabila dapat memahami struktur kepribadian dan psikodinamik klien.
Salah satu fungsi utama dari terapis adalah mengajari klien akan makna dari proses terapi sehingga mereka mampu mendapatkan insight dari masalah yang mereka alami. Selain itu juga untuk meningkatkan kesadaran mereka untuk berubah dan mampu mengendalikan kehidupan mereka secara rasional (Corey, 1996). Saretsky dalam Corey (1996) mengatakan bahwa proses terapi psikoanalitik bukanlah sebagai obat. Klien memutuskan untuk berubah tergantung pada seberapa siap mereka untuk berubah daripada seberapa tepat dan akuratnya interpretasi terapis. Jika terapis mendorong klien terlalu cepat, terapi menjadi tidak produktif.

Pengalaman Klien dalam Terapi
Corey (1996) menyatakan bahwa klien yang tertarik untuk menjalani terapi psikoanalisa harus bersedia untuk komit terhadap dirinya untuk menjalani proses terapi yang intensif dan panjang. Biasanya mereka datang beberapa minggu sekali untuk 3-5 tahun. Setelah sesi tatap muka dengan terapis, klien diminta berbaring di sebuah sofa yang nyaman dan diminta menyatakan apa saja yang ada di pikirannya saat itu (disebut juga sebagai asosiasi bebas). Asosiasi bebas adalah fundamental rule (aturan dasar dari teknik psikoanalisa). Klien diminta melaporkan perasaanya, pengalamannya, asosiasinya, ingatan dan imajinasi/fantasinya kepada terapis. Berbaring pada sofa yang nyaman serta dengan kondisi tidak terganggu oleh stimulus-stimulus akan mengurangi kemungkinan mereka untuk melihat dan membaca reaksi wajah terapis dan meningkatkan karakteristik proyeksi dari pemindahan yang regresif (transference regressive). Pada waktu yang sama, terapis dapat dengan bebas memonitor dengan hati-hati petunjuk (clue) yang terlihat di wajah klien.
Klien dalam terapi psikoanalitik membuat komitmen atau kesepakatan bahwa mereka setuju untuk membicarakan segala hal, karena hasil verbal adalah jantung dari terapi psikoanalisa. Mereka diminta untuk tidak membuat perubahan-perubahan yang radikal dalam gaya hidup mereka selama proses analisis, seperti bercerai atau berhenti dari pekerjaan. Klien psikoanalisa siap memasuki tahap akhir (termination) ketika mereka dan terapis mereka setuju bahwa masalah emosional mereka telah di klarifikasi dan diterima, ketika mereka telah memahami akar sejarah dari masalah/kesulitan mereka dan dapat mengintegrasikan kesadaran mereka dari masalah pada masa lalu dengan hubungan mereka di masa sekarang. Analisis yang berhasil adalah yang dapat menjawab pertanyaan “mengapa” terkait dengan masalah kehidupan klien. Klien yang telah sukses dengan terapi analisis melaporkan bahwa mereka mendapatkan pemahaman tentang simtom-simtom yang terjadi pada diri mereka. Selain itu mereka juga mendapatkan insight mengenai bagaimana lingkungan mempengaruhi mereka dan bagaimana mereka mempengaruhi lingkungan dan defensif (pertahanan) mereka menjadi berkurang.

Hubungan antara Terapis dengan Klien
Corey (1996) mengatakan bahwa hubungan klien dengan terapis di konseptualisasikan dalam proses transferensi (pemindahan). Hal tersebut adalah inti dari pendekatan psikoanalisa. Transferensi adalah alam bawah sadar klien yang berpindah pada terapis seperti perasaan-perasaan/fantasi-fantasi sebagai reaksi terhadap signficant other pada masa lalu klien. Jadi perasaan-perasaan/fantasi-fantasi terhadap orang lain di masa lalu klien berpindah pada terapis atau di proyeksikan kepada terapis, sehingga klien mengalami kembali hal tersebut dan terapis mencoba membantu klien untuk mendapatkan insight atau pikiran rasional mengenai hal tersebut. Transferensi membuat klien memahami dan menyelesaikan “unfinished bussiness” dari hubungan masa lalu. Proses treatmennya berupa rekonstruksi dan mengenang kemabali peristiwa di masa lampau.
Kemajuan terapi terlihat dari perasaan dan konflik ketika anak-anak mulai muncul dari dalam alam bawah sadar. Klien merasakan kembali konflik-konflik seperti trust vs mistrus, cinta vs benci, ketergantungan vs ketidaktergantungan, autonomy vs shame and guilt. Transferensi membuat klien mengalami kembali atau merasakan kembali konflik-konflik yang terjadi pada lima tahun pertama kehidupannya, kemudian membawa kembali pada masa sekarang dan meletakkannya pada terapis. Singkatnya, terapis adalah sebagai pengganti dari significant other pada masa lalu klien. Perasaan benci adalah hasil dari transferensi negatif (negative transference) sedangkan perasaan cinta terhadap terapis, berharap untuk di adopsi olehnya, dan lain-lain adalah hasil dari transferensi positif (positive transference). Namun dikatakan lebih lanjut oleh Corey (1996), suatu kesalahan jika setiap respon positif (seperti, menyukai terapisnya) dilabelkan sebagai positive transference, seharusnya tidak di labelkan seperti itu. Hal ini akan diulas lebih lanjut pada pembahasan berikutnya.
Apabila terapis ingin menghasilkan perubahan, hubungan transferensi harus bekerja dari awal sampai akhir (working through). Proses working through berisikan eksplorasi dari material-material alam bawah sadar dengan defensif, kebanyakan hal tersebut terbentuk pada masa anak-anak awal. Working through diperoleh melalui mengulang kembali interpretasi dan mengeksplor daya tahan atau perlawanan klien. Klien memiliki banyak kesempatan untuk melihat berbagai macam inti dari konflik mereka dan inti dari defense (pertahanan) mereka yang termanifestasi dalam kehidupan sehari-hari. Hal tersebut diasumsikan agar klien secara psikologis menjadi tidak ketergantungan. Mereka tidak hanya menjadi sadar terhadap material-material yang tidak disadari, tetapi juga dapat mencapai beberapa tingkat kebebasan dari perilaku yang di motivasi oleh dorongan-dorongan lahir, seperti kebutuhan akan cinta yang penuh dan penerimaan dari figur orang tua mereka. Hubungan transferensi membutuhkan waktu yang lama untuk dibangun dengan intens dan perlu tambahan waktu untuk memahami dan menyelesaikan masalah klien. Jadi, working through meminta waktu yang sangat panjang dalam proses total terapi.
Hal yang harus ditekankan pada terapi psikoanalitik menurut Corey (1996) adalah bahwa semua jejak dari kebutuhan-kebutuhan dan trauma masa kecil tidak akan pernah terhapus seluruhnya. Jadi, konflik-konflik kita ketika masih kanak-kanak tidak dapat sepenuhnya diselesaikan walaupun banyak aspek dari transferensi seperti working through, dan lain-lain. Kita memproyeksikan sesuatu kepada orang lain dengan permintaan yang tidak realistis dari yang kita harapkan untuk dipenuhi oleh orang tersebut. Hal itu membuat kita mengalami transferensi dengan orang-orang dan masa lalu kita selalu menjadi bagian yang vital bagi orang-orang yang ada saat ini.
Countertransference adalah reaksi dari klien kepada terapis yang mengganggu objektivitas mereka. Sebagai contoh, klien menjadi sangat tergantung kepada terapis, klien menyukai dan jatuh cinta kepada terapis. Corey (1996) mengatakan bahwa terapis diharapkan mampu mengembangkan beberapa tingkat objektivitas dan tidak bereaksi secara irasional dan subjektif dalam menghadapi kemarahan, cinta, kritik dan perasaan-perasaan intens lainnya dari klien mereka. Jika klien-klien mereka ada yang jatuh cinta, maka harus dialihkan kepada terapis atau psikolog lainnya. Corey (1996) melanjutkan bahwa kesalahan besar mengasumsikan bahwa semua perasaan klien kepada terapis adalah manifestasi dari transferensi. Banyak reaksi tersebut adalah realitas (kenyataan). Maka dari itu, setiap respon positif dari klien seperti menyukai terapisnya seharusnya tidak di labelkan sebagai “positive transference”. Selain itu, kemarahan klien terhadap terapis mungkin juga merupakan fungsi dari perilaku terapis. Kesalahan besar jika melabelkan semua reaksi negatif dari klien sebagai tanda dari “negative transference.” Jadi, tidak tepat jika berpendapat bahwa semua perasaan positif dan negatif dari klien kepada terapis adalah transferensi yang tidak berhasil (countertransference).
Countertransference adalah fenomena yang terjadi ketika terdapat afek yang tidak tepat. Ketika terapis merespon dengan irasional atau ketika mereka kehilangan objektivitas dalam hubungan karena konflik-konflik mereka sendiri, terutama ketika ada hubungan dengan klien, seperti ayah, ibu atau orang yang mereka cintai. Searles dalam Corey (1996) menyatakan bahwa countertransference dapat menghasilkan sesuatu yang positif. Reaksi countertransference dapat memberikan makna yang penting untuk memahami dunia klien. Terapis yang mencatat bahwa suasana countertransference itu mengganggu, sebaliknya mereka mungkin mempelajari sesuatu tentang pola permintaan (demands) klien. Countertransference dapat dilihat sebagai sesuatu yang secara potensial berguna, jika dieksplor dalam analisis.
Hubungan terapis dengan klien meminta tingkat penyesuaian emosional yang besar. Dipandang sebagai cara yang positif, countertransference menjadi kunci potensial untuk membantu klien. Jadi sangatlah jelas bahwa hubungan terapis dengan klien adalah hal yang vital dan penting dalam terapi psikoanalisa. Hasil dari hubungan tersebut adalah klien mendapatkan insight dari material yang represikan, yang merupakan dasar dari proses pertumbuhan analisis. Klien menjadi mampu memahami asosiasi atau hubungan antara pengalaman masa lalu mereka dengan perilaku dan struktur karakter mereka saat ini. Pendekatan psikoanalisa berasumsi bahwa tanpa dinamika tersebut self understanding (pemahaman diri) tidak akan bisa menjadi substansi yang dapat merubah kepribadian atau resolusi dari konlik-konflik saat ini (Corey, 1996).

Aplikasi Teknik Psikoanalisa
Corey dalam Lubis (2011) mengatakan bahwa teknik terapi psikoanalisa adalah untuk meningkatkan kesadaran, memperoleh insight, dan memahami arti dari simtom-simtom yang dirasakan oleh klien. Proses terapi selesai ketika tujuan-tujuannya telah tercapai yaitu memperoleh pemahaman intelektual dan emosional dimana hal tersebut diharapkan dapat mengubah kepribadian. 5 teknik dasar dari terapi psikoanalitik terdiri dari:
1.    Asosiasi Bebas


Asosiasi bebas adalah teknik yang memberi kebebasan pada klien untuk mengatakan apa saja perasaan, pemikiran, dan renungan yang ada dalam pikirannya tanpa ada yang disembunyikan. Melalui teknik ini, klien diharapkan mampu melepaskan emosi yang berkaitan dengan pengalaman traumatik di masa lau yang terpendam (katarsis). Katarsis inilah yang mendorong klien memperoleh pemahaman dan evaluasi diri yang lebih objektif. Tugas terapis disini adalah memahami hal-hal yang di represi dan hanyut ke alam bawah sadar. Selanjutnya terapis akan menafsirkan hal tersebut dan menyampaikannya pada klien. Setelah itu, membimbing ke arah pemahaman dinamika kepribadian yang tidak disadari oleh klien.

2.    Analisis Mimpi

 
Freud menilai mimpi sebagai jalan istimewa menuju ketidaksadaran karena melalui mimpi, hasrat, kebutuhan dan ketakutan yang di pendam akan mudah diungkapkan. Pada saat klien tidur, pertahanan egonya akan melemah sehingga perasaan yang ditekan akan muncul ke alam sadar. Analisis mimpi memungkinkan terapis untuk mengetahui masalah-masalah yang tidak terselesaikan oleh klien. Pada dasarnya mimpi memiliki 2 taraf isi, yaitu isi laten dan isi manifes. Isi laten terdiri dari motif yang disamarkan, tersembunyi dan bersifat simbolik karena terlalu menyakitkan dan mengancam seperti dorongan seksual dan agresif. Sementara itu, isi manifes terdiri dari bentuk mimpi yang tampil dalam impian klien. Tugas terapis disini adalah menyingkap makna yang disamarkan dengan mempelajari simbol-simbol dari isi manifes mimpi, sehingga dapat diketahui isi laten klien.       
 
3.    Analisis Resistensi
Resistensi dipandang oleh Freud sebagai pertahanan klien terhadap kecemasan yang akan meningkat jika klien menjadi sadar atas dorongan dan perasaan yang direpresinya. Hal ini akan menghambat terapis dan klien memperoleh pemahaman dinamika ketidaksadaran klien. Jika terjadi resistensi, terapis harus membangkitkan perhatian klien dan menafsirkan resistensi yang paling terlihat untuk mengurangi kemungkinan klien menolak penafsiran. Resistensi dapat menghambat kemampuan klien untuk mengalami kehidupan yang lebih memuaskan sehingga sebisa mungkin terapis harus dapat memberi pemahaman pada klien agar membuka tabir resistensinya.
  
4.    Analisis Transferensi
Transferensi merupakan reaksi klien yang melihat terapis sebagai orang yang paling dekat dan penting dalam hidupnya di masa lalu. Sebagian besar terapis akan mengembangkan neurosis transferensi yang dialami klien di lima tahun pertama kehidupannya. Untuk itu terapis harus melakukannya secara netral, objektif, anonim dan pasif. Teknik ini akan mendorong klien menghidupkan kemabali masa lalunya sehingga memberi pemahaman pada klien mengenai pengaruh masa lalunya terhadap kehidupannya saat ini. Melalui transferensi, klien juga mampu menyadari konflik masa lalu yang masih dipertahankannya sampai sekarang. 

5.    Interpretasi (Penafsiran)
Interpretasi merupakan prosedur dasar yang mencakup analisis terhadap asosiasi bebas, analisis mimpi, analisis resistensi, dan analisis transferensi. Terapis akan menyampaikan sekaligus memberi pemahaman pada klien mengenai makna dari tingkah laku klien yang dimanifestasikan melalui keempat teknik psikoanalisis tersebut. Tujuan dari penafsiran ini adalah agar mendororng ego klien untuk megasimilasi hal-hal baru dan mempercepat proses penyingkapan hal-hal yang tidak disadari. Penafsiran harus disampaikan pada saat yang tepat agar dapat diterima klien sebagai bagian dari dirinya. Apabila disampaikan terlalu cepat, kemungkinan klien akan melakukan penolakan, tetapi apabila penafsiran jarang dilakukan, kemungkinan klien akan sulit memperoleh insight atas masalahnya.
                        
Terapi dengan pendekatan psikoanalisa ini tidak terlalu tepat jika digunakan pada orang-orang yang ingin berfungsi sepenuhnya atau ingin mencapai aktualisasi diri, artinya tidak terlalu tepat bagi orang-orang sudah dalam keadaan baik, yang berkeinginan untuk menjadi lebih baik lagi. Orang-orang yang ingin beraktualisasi diri akan lebih baik apabila menjalani konseling dengan pendekatan humanistik dan eksistensial. Untuk terapi dengan pendekatan Psikoanalisa akan lebih tepat untuk klien-klien yang memiliki masalah berat sampai ringan, mulai dari masalah-masalah abnormal sampai pada masalah ringan, seperti putus cinta, trauma, dan lain-lain. 

Sekian ulasan mengenai terapi pada pendekatan psikoanalisa ini, semoga dapat bermanfaat bagi para pembacanya yang ingin mengetahui mengenai terapi tersebut. Terima kasih. 





DAFTAR PUSTAKA

Corey, Gerald. (1996). Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy. USA: Brooks Cole

Lubis, Lumongga Namora. (2011). Memahami Dasar-Dasar Konseling dalam Teori dan Praktik. Jakarta: Kencana Prenada Media Group